Gotot Prakoso tercenung sejenak ketika seorang mahasiswa di sebuah
kampus film di Amerika Serikat bertanya tentang wayang. Ketua Asosiasi
Film Animasi Indonesia (ASIFA) itu baru paham dengan pertanyaan lanjutan
dari mahasiswa tadi. Kepada dia, mahasiswa itu mengaku penasaran karena
seni wayang sering menjadi bahasan terdepan dalam mata kuliah sejarah
film animasi dunia, terutama sejak United Nations on Educational,
Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merestui wayang sebagai
kesenian asli Indonesia.
Gotot, dosen sekaligus ketua jurusan
animasi dalam Fakultas Perfilman di Institute Kesenian Jakarta, itu
menjelaskan wayang memang kesenian asli Indonesia. Ada wayang kulit di
Jawa Timur dan Jawa Tengah, Wayang Golek di Jawa Barat, dan beberapa
kesenian wayang di Sumatera dan Kalimantan. ”Jadi wayang itu memang
diajarkan dan ada pada bab pertama buku-buku sejarah film animasi yang
diajarkan di seluruh kampus film dunia,” ujarnya kepad merdeka.com,
Jumat pekan lalu.
Bentuk wayang yang warna-warni dan bisa dilihat
dari dua sisi menjadi sebuah desain animasi unik. Apalagi dalam setiap
pementasan, kesenian khas Indonesia itu sudah mempertimbangkan tata
letak lampu, iringan komposisi musik, dialog, bisa digerakkan mengikuti
alur cerita, dan pementasannya bisa dinikmati dari dua sudut berbeda,
depan dan belakang.
Sebab itu, menukil dari buku Karya John Halas
hingga Walt Disney tentang pemahaman animasi, memang tak mengherankan
jika wayang sebagai salah satu bagian sejarah perkembangan karya
animasi. Saat manusia menafsir gerak kehidupan atau tentang ‘hidup’ yang
diindikasikan dengan gerak dan memiliki makna serta jiwa, itu sesuai
pengertian anima dalam bahasa Yunani, dan animate dalam bahasa inggris,
sebagai asal dari kata animasi.
Lalu bagaimana perkembangan film
animasi di Indonesia? Gotot tersenyum, lalu berkata, animasi di
Indonesia terus tumbuh seiring perkembangan teknologi. Dari segi
pendidikan misalnya. Menurut dia, sekarang sudah ada ribuan sekolah
membuka kelas multimedia dengan menyisipkan pelajaran membuat animasi.
Cuma
masalahnya pada pengembangan teknologi. Para animator muda Indonesia
sebenarnya secara teknik sudah mampu membuat karya kelas dunia. Hanya
saja, ketika karya itu disodorkan ke rumah-rumah produksi asing, ditolak
karena karya mereka digarap memakai program bajakan. Padahal bagi luar
negeri, penggarapan karya menggunakan program komputer menjadi salah
satu syarat membuat karya animasi.
Menurut dia, pemerintah kurang
begitu memperhatikan dunia perfilman, khususnya animasi. Suatu ketika,
kata dia, menteri komunikasi dan informatika pernah mendorong penggunaan
program linux, yang bisa mudah dikembangkan oleh penggunanya.
Masalahnya ketika Bill Gates, pemilik Microsoft, datang ke Indonesia.
”Rencana itu tidak terdengar lagi. Padahal harga Microsoft asli mahal.
Itu memberatkan animator pemula,” ujarnya.
Belum lagi masalah
industri pertelevisian di tanah Air enggan membeli karya animator dalam
negeri karena persoalan harga. Mereka lebih memilih film animasi asing
dengan harga lebih murah, cukup Rp 5 juta per serial. Padahal untuk
membuat film animasi lokal, harga yang disodorkan minimal Rp 6 juta per
serial. Kalau pemerintah serius menggalakkan program cinta tanah air,
mestinya pemerintah bisa membantu animator itu masuk ke industri
pertelevisian tanah air.
“Caranya terserah. Bisa membuat regulasi
atau bentuk apapun,” ujarnya. Terlebih, merujuk syarat yang ditetapkan
asosiasi film animasi dunia, Indonesia baru bisa disebut negara produsen
animasi jika tiga tahun berturut-turut televisi lokal sanggup
menayangkan film animasi buatan lokal. ”Masalahnya, pemerintah mau nggak
mendukung mereka berkarya di dalam negeri?”
Sumber: http://www.merdeka.com/khas/wayang-rujukan-animator-dunia-animasi-indonesia-2.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar