Minggu, 15 Februari 2015

Raja Siam dan sejarah Museum Gajah

Kemarin ada peristiwa pencurian emas di Museum Nasional Indonesia atau lebih keren disebut dengan nama Museum Gajah di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Sebanyak 4 lempeng emas era Mataram kuno dicuri orang tak dikenal dengan cara membobol pintu penyimpanan koleksi benda berharga itu. Polisi hingga kini masih menyelidiki kasus itu.

Bicara Museum Gajah, ada baiknya kita mengenal asal usul museum terbesar di Indonesia dengan total koleksi benda-benda bersejarah sebanyak 240.000 items itu.

Sebagian dari anda mungkin sudah tahu bagaimana awal berdirinya museum ini. Museum ini awalnya hanya sebuah tempat perkumpulan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG), didirikan oleh Pemerintah Belanda pada 24 April 1778. Perkumpulan itu didirikan untuk menjawab gerakan revolusi intelektual (the Age of Enlightenment) di Eropa.

Waktu itu, orang-orang Eropa mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada 1752 di Harlem, Belanda berdiri De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (perkumpulan ilmiah Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis.

Singkat cerita, salah seorang pendiri BG, JCM Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Dia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku. Sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Direktur perkumpulan ini. Karena rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society, sebelumnya disebut "Societeit de Harmonie" di Jalan Majapahit nomor 3.

Pada 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan membangun gedung museum baru di lokasi yang sekarang, Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 12, dulu disebut Koningsplein West. Waktu itu BG digelontor dana besar untuk ekspedisi dan melakukan penelitian di Hindia. Upaya paling terkenal adalah penggalian situs candi Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah.

Museum ini juga dikenal sebagai Museum Gajah oleh masyarakat Jakarta. Sebab di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Siam atau Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada 9 Maret sampai 15 April 1871.

Kunjungan tersebut dikisahkan dalam buku berjudul: Journeys to Java by a Siamese King, karangan Imtip Pattajoti Suharto. Imtip mengkompilasi tiga catatan perjalanan Raja Rama V ke Pulau Jawa pada 1871, 1896, dan 1901. Dua dari tiga kunjungannya itu, dia mampir ke Batavia. Karena terkesan oleh sambutan dan kebaikan orang Belanda di Batavia, Chulalongkorn mengirimkan sebuah patung gajah perunggu itu.

Pada 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Museum ini menjadi yang terbesar di Indonesia karena jumlah koleksi benda mencapai ribuan. Museum Gajah juga menjadi ikon nasional. Maka publik wajar kaget bila Kemarin tempat bersejarah itu sampai kemalingan.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/raja-siam-dan-sejarah-museum-gajah.html

5 Alasan piranha dan ikan aligator bisa hidup di Indonesia

Beberapa waktu lalu ada kabar mengejutkan di dunia perikanan tentang lepasnya ikan aligator dan piranha di Waduk Jatiluhur dan Cirata, Jawa Barat. Dua ikan air tawar ini sejatinya berasal dari kawasan hutan hujan tropis di Amazon, Amerika Selatan. Keduanya merupakan karnivora atau pemakan daging, sehingga dianggap berbahaya.

Oleh sebab itu dua jenis ikan itu masuk buku hitam larangan diperjualbelikan antar negara. Alasannya karena ikan-ikan itu bisa merusak kelestarian sumber perairan. Piranha dan ikan aligator biasanya memangsa ikan-ikan liar lainnya.

Berikut ini 5 alasan ikan piranha dan aligator bisa hidup di Indonesia:

Kemampuan adaptasi

Pakar Perikanan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Triyanto mengatakan, ikan-ikan endemik negara lain bisa saja hidup di Indonesia dengan cara adaptasi, misalnya piranha dan aligator itu. Bahkan dia menyebut banyak ikan-ikan bukan asli Indonesia, kemudian beradaptasi hingga berkembang biak di Indonesia.

Yang dikhawatirkan kalau berkembang biak. Bisa saja nanti ikan (aligator) di Waduk Jatiluhur berkembang biak. Yang perlu dikhawatirkan kan itu, bisa memangsa ikan-ikan di sana. Kalau seperti itu bisa bahaya. Ini mirip hama keong emas. Keong emas itu bukan asli Indonesia, awalnya ga banyak, tapi lama-lama berkembang biak, malah jadi hama pertanian, ujarnya.

Tapi apa mungkin ikan endemik Amazon bisa hidup di Indonesia? Dia menjawab, kalau adaptasi, ya bisa lah. Banyak to, ikan-ikan yang bukan asli Indonesia kemudian beradaptasi di Indonesia. Adaptasi saja, lama-lama juga pasti bisa. Contohnya ikan hias di Indonesia banyak, yang dari Brazil, Amerika dan Afrika, misalnya ikan-ikan hias itu.

Dibudidayakan

Alasan lain karena ikan-ikan itu dibudidayakan. Misalnya ikan aligator. Awalnya spesies ikan pemakan daging (karnivora) yang lepas di waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, itu dibudidayakan warga setempat sebagai ikan hias.

Namun pada akhir 2011 lalu budidaya ikan aligator ketahuan, lalu didatangi Dinas Perikanan dan Peternakan setempat. Akhirnya ikan-ikan hasil budidaya diangkut ke Jakarta. Tapi ternyata, beberapa ikan itu ada yang lepas ke dalam Waduk dan tetap hidup sampai sekarang.

Ada yang membudidayakan di waduk, terus dikasih tahu kalau ikan itu dilarang dibudidayakan, lalu ikannya di bawa ke Jakarta. Nampaknya ada sisa ikan lepas ke waduk, kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan setempat Herry Hermawan, kepada merdeka.com, Selasa (10/9).

Dijadikan ikan hias di rumah

Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Purwakarta, Herry Hermawan, ikan aligator kecil (Lepisosteus oculatus) selama ini memang banyak dipelihara sebagai ikan hias rumahan. Ikan ini dipelihara untuk keperluan pribadi. Tapi bila ikan ini dilepas ke perairan umum, kemudian jadi besar bisa berbahaya karena memangsa ikan jenis lain.

Stok makanan berlimpah

Beberapa jenis ikan karnivora dilarang dibudidayakan di perairan umum, termasuk jenis piranha dan aligator. Alasannya, ikan itu dianggap berbahaya karena bisa merusak sumber daya perairan. Ikan jenis ini memangsa ikan jenis lain sehingga akan berdampak pada berkurangnya ikan tangkapan nelayan.

Contohnya di Waduk Jatiluhur. Aligator bisa hidup sampai sekarang karena stok makanan masih banyak. Menurut Pakar Perikanan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Triyanto, saat ini mungkin belum berbahaya karena stok makanan masih banyak.

Tapi kalau makanan sudah habis, yang namanya hewan, khawatirnya nanti menyerang manusia karena tidak ada lagi makanan, ujarnya.

Iklim di Amazon mirip dengan di Indonesia

Hutan hujan tropis amazon di bagian benua Amerika Selatan dikenal sebagai habitat asli ikan piranha dan aligator. Hutan itu memiliki kondisi iklim yang mirip dengan wilayah Indonesia, misalnya hutan Kalimantan. Begitu juga dengan beberapa satwa, ada beberapa jenis satwa yang sama-sama menghuni dua wilayah tropis ini.

Contohnya adalah Pesut, ular anaconda dan beberapa hewan langka yang hanya ada di Kalimantan dan Amazon. Kehidupan alam dan hutan di Amazon tak jauh beda dengan hutan Kalimantan. Lembab, becek, berawa serta terdapat danau-danau kecil yang kaya akan kehidupan khas lahan basah.

Tapi apa mungkin ikan endemik Amazon bisa hidup di Indonesia? Pakar Perikanan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Triyanto menjawab, kalau adaptasi, ya bisa lah. Banyak to, ikan-ikan yang bukan asli Indonesia kemudian beradaptasi di Indonesia. Adaptasi saja, lama-lama juga pasti bisa. Contohnya ikan hias di Indonesia banyak, yang dari Brazil, Amerika dan Afrika, misalnya ikan-ikan hias itu.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/5-alasan-piranha-dan-ikan-aligator-bisa-hidup-di-indonesia.html

Kamis, 12 Februari 2015

Asal usul jengkol jadi makanan rakyat

Baru-baru ini diberitakan harga jengkol melesat tinggi, melebihi harga daging ayam, telor dan sembako lain. Di Kota Bekasi misalnya, harga buah polong-polongan ini menembus Rp 50 ribu per kilogram atau naik 100 persen dari harga biasanya Rp 25 ribu per kilogram.

Harga jengkol ini bahkan lebih tinggi dari harga daging ayam boiler. Menurut data Kementerian Perdagangan, per 28 Mei, harga ayam boiler di pasaran sebesar Rp 26.122 per kilogram. Sementara harga telur ayam kampung Rp 35.127 per kilogram. Hebat bukan?

Nah, bicara jengkol, ada baiknya kita mengenal lebih dekat asal usul buah polong-polongan, yang bila dimasak digandrungi sebagian besar orang Indonesia ini.

Jengkol atau Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum, merupakan jenis tanaman khas wilayah tropis Asia Tenggara. Pohon ini bisa anda temukan di Indonesia, Malaysia, Myanmar dan Thailand. Di negara-negara itu pula biji jengkol diolah menjadi rupa-rupa menu makanan.

Di Indonesia, beberapa daerah memiliki istilah sendiri-sendiri untuk menyebut tanaman ini. Misalnya jengkol atau erring dipakai orang Jawa, lubi istilah orang Sulawesi, jariang untuk wilayah Minangkabau, jaring untuk daerah Lampung dan joring atau jering untuk daerah Batak.
Bagi orang Indonesia, biji pohon jengkol ini juga bisa diolah menjadi berbagai menu makanan. Misalnya dijadikan keripik, semur atau jenis kudapan lain.

Dalam buku "Sejarah Keraton Yogyakarta" cetakan 2009, penulis Ki Sabdacarakatama mengutip buku babad "Giyanti" tulisan Yosodipuro. Dia menyebut, pohon erring atau jengkol pernah digunakan sebagai patok cikal bakal calon kota Yogyakarta oleh Sultan Hamengku Buwono I, usai perjanjian Giyanti.

Namun demikian, makanan dari biji jengkol atau erring itu kurang popular bagi masyarakat Jawa. Jengkol lebih popular di kalangan masyarakat Betawi, Pasundan dan Sumatra. Bagi orang Sumatera jengkol cenderung dianggap sebagai makanan murahan.

Penyebabnya, biji jengkol bisa menimbulkan bau tak sedap pada napas dan sisa pencernaan. Pemakan jengkol sering menjadi korban ejekan dari sekelilingnya. Tapi uniknya, tetap banyak orang-orang yang makan jengkol.

Di Sumatera, pohon jengkol tumbuh di lereng-lereng pegunungan Bukit Barisan, pekarangan dan ladang-ladang penduduk. Orang Sumatera belum terbiasa membudidayakan tanaman jengkol. Mereka umumnya memperoleh biji-biji jengkol mentah dari tanaman liar di sekitar hutan atau yang tumbuh secara tak sengaja di ladang-ladang.

Begitu juga di Jakarta. Konon orang-orang Betawi banyak yang menanam pohon ini di pekarangan-pekarangan rumah. Misalnya di wilayah Pondok Gede dan Lubang Buaya. Sekarang dua daerah itu terkenal karena semur jengkolnya, yang disebut-sebut sebagai makanan khas orang Betawi.

Selama ini memang tidak ada catatan resmi sejak kapan Jengkol dikenal di tengah penduduk Indonesia ini. Jengkol agaknya sudah ada sepanjang umur peradaban manusia di Nusantara. Seperti dikatakan Sejarawan Jakarta JJ Rizal, jengkol ini bukan hanya dikenal di Jakarta, tapi juga di daerah lain di Indonesia.

"Tidak ada catatan resmi. Tapi jengkol sepertinya identik dengan makanan rakyat miskin, rakyat pinggiran. Makanan ini kan baunya tidak sedap, dianggap makanan sampah. Dulu mungkin orang kota tidak terlalu peduli, tapi sekarang sepertinya banyak yang suka," terangnya.

Menurut ahli botani asal Inggris, Isaac Henry Burkill (1935) lewat buku catatan berjudul; dictionnary of the economic products of the Malay peninsula, jengkol selain dipakai sebagai lauk pauk, juga dipakai untuk obat diare dalam dunia medis, bahan keramas rambut, dan bahan penambah karbohidrat.

Pohon jengkol berbuah secara musiman, antara November hingga Januari. Tanaman ini banyak ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Tinggi pohon mencapai 26 meter, bisa hidup di dataran tinggi maupun rendah. Meski bisa dimakan, jengkol juga mengandung racun berasal dari asam jengkolat (L-Djengkolid acid).

Kasus keracunan jengkol di Indonesia pernah dilaporkan dokter peneliti Belanda, Van Veen dan Hyman. Hyman menulis buku yang menjadi rujukan medis terbit pada 1933 berjudul "on the toxic component of the djenkol bean". Dia menyebut pada zaman penjajahan Belanda dulu kasus keracunan jengkol banyak dialami orang-orang Jawa.

Namun demikian, dalam buku itu dia tidak mengungkap detail jumlah kasus. Dia lebih fokus pada penemuan asam jengkolat yang terkandung dalam jengkol dari penelitianya di Jawa.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/asal-usul-jengkol-jadi-makanan-rakyat.html

Asal usul jiwa Korsa

Dua peristiwa besar melibatkan anggota TNI. Pertama kasus pembakaran Polres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan yang dilakukan Danyon Armed Martapura. Ke dua kasus penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta yang dilakukan Grup 2 Kopassus, Kandang Menjangan.

Alasan yang mengemuka dari dua peristiwa itu karena solidaritas jiwa korsa, atau I'sprit de corps. Tentara menyerang Polres UKU dan Kopassus menyerang Lapas Cebongan karena balas dendam setelah kawan mereka terbunuh.

Lalu bagaimana Jiwa Korsa terbentuk begitu kuat?

Sejarawan militer Amerika Joseph S. Rouchek (1935: 164-174) dalam esai berjudul: Social Attitudes of the Soldier in War Time, menyatakan faktor utama yang membedakan warga sipil dengan kombatan, seperti anggota militer terletak pada faktor hilangnya semua kepribadian dan individualisme.

"Saat seorang sipil menjadi militer, maka rasa nyaman berada di ruang pribadi mesti lenyap. Mereka harus menghilangkan inisiatif, sikap mematut diri, dan bekerja sama dengan rekan seperjuangan."

Sementara Willard Waller (1899-1945) dalam bukunya berjudul Willard W. Waller On The Family, Education, and War mengatakan, militer terbiasa memiliki budaya yang berbeda dari golongan masyarakat lain. Mereka memiliki tradisi sendiri yang dibentuk melalui latihan-latihan khusus.

Perwujudan dari budaya itu terbawa dalam diri seorang militer selama dia hidup sampai mati. Hal itu terwakili mulai dari lagu-lagu, rumor, mitos, sampai bahasa-bahasa slank khas tentara.

Menurut dia, jiwa korsa seorang tentara modern tidak hanya mengandalkan patriotisme. Berkaca pada pengalaman Legiun Caesar zaman Romawi dulu, seorang prajurit harus memiliki kepercayaan kuat pada rekan, dan jiwa korsa ini terbukti lebih mudah muncul dibanding semangat tempur.

Sementara itu Ralph Linton, Antropolog Amerika menyebut situasi tersebut sebagai asimilasi. Saat seseorang menjadi seorang personil militer, secara otomatis dia menceburkan diri dan beradaptasi dengan prinsip-prinsip hidup yang sangat kental dengan nuansa militer.

Salah satu penanda bahwa sistem sosial khas tentara ini sukses adalah ketika personil militer dapat menunjukkan esprit de corps, alias solidaritas korps.

Parameter buat mengukur sikap korsa dalam dunia militer tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan tempur. Tentara tidak boleh sekadar terampil, tapi dia juga harus memiliki kebanggaan tergabung dalam sebuah kesatuan.

Lalu apakah dengan alasan solidaritas jiwa korsa tentara boleh melakukan penyerangan seperti itu?

Sumber:  http://www.merdeka.com/peristiwa/asal-usul-jiwa-korsa.html

Ini asal usul dan sejarah TKI pertama kali

Kemarin ada kasus 7 WNI ditembak mati Polisi Malaysia gara-gara terlibat aksi kejahatan, yakni perampokan. Tulisan ini tidak mengulas tentang cerita WNI yang ditembak mati polisi negeri Jiran itu, melainkan hanya mengingatkan kita tentang asal usul dan sejarah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri.

Ada banyak cerita miris tentang TKI di luar negeri. Coba buka ingatan anda tentang kisah Cariyati, pembantu rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Malaysia pada 2007 silam. Dia kabur dari lantai 15 apartemen majikan karena tak kuat siksaan juragan.

Kemudian kisah Ester Ria (32), TKI asal Desa Selange, Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yang tewas setelah dua hari menahan sakit akibat siksaan juragan pada Agustus 2013 lalu. Sebenarnya masih seabrek kisah TKI yang disiksa majikannya di negeri orang.

Kian ngeri bila kita melongok data kasus tenaga kerja Indonesia yang terancam atau sudah dihukum mati di luar negeri, misalnya kisah Welfrida Soik, TKI asal NTT yang kini menanti hukuman mati di Malaysia. Belum lagi kisah TKI di Arab Saudi, yang konon menurut Saudi Gazzette, media Timur Tengah, setidaknya ada 25 TKI menanti hukuman mati, seperti dialami Ruyati binti Sapubi yang dihukum pancung pada 2011 silam.

Lalu bagaimana sih asal usul dan sejarah TKI itu?

Sejarah pengiriman TKI ternyata panjang sekali. Dimulai pada 1890-an, jauh sebelum republik ini merdeka. Data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), pada awalnya pengiriman TKI dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan cara mengirim buruh kontrak ke negara Suriname, Amerika Selatan yang saat itu merupakan jajahan Belanda.

Saat itu TKI dikirim karena Suriname kekurangan tenaga kerja untuk mengurus perkebunan karena budak asal Afrika yang bekerja di perkebunan Suriname dibebaskan pertengahan 1863 sebagai bentuk pelaksanaan dari politik penghapusan perbudakan. Gelombang pertama TKI yang dikirim tiba di Suriname 9 Agustus 1890 dengan jumlah 94 orang.

Mulai saat itu pemerintah Hindia Belanda secara reguler mengirimkan TKI ke Suriname. Pengiriman TKI ke Suriname oleh pemerintah Hindia Belanda berakhir pada 1939 dengan jumlah total mencapai 32.986 orang.

Ironisnya, pengiriman TKI ini berlanjut setelah Indonesia merdeka. Namun era ini tujuan pengiriman TKI menyebar, mulai beralih ke Arab Saudi dan Malaysia. Arab Saudi menjadi tujuan pengiriman TKI karena ada hubungan religius yang erat antara Indonesia dengan Arab Saudi yaitu melalui jalur ibadah haji.

Pada saat orang Indonesia melaksanakan ibadah haji mereka berinteraksi dengan warga lokal Arab Saudi, bahkan ada yang kemudian menikah, menetap dan membuka usaha di sana. Lambat laun hubungan semakin erat sampai kemudian hari ada yang mengajak saudaranya ke Arab Saudi untuk bekerja.

Malaysia menjadi negara tujuan lain karena memang secara geografi dekat dengan Indonesia. Apalagi sejak dulu memang sudah ada perlintasan di batas antara kedua negara. Sampai 1980-an pengiriman TKI dilakukan berdasarkan hubungan kekerabatan, per orangan dan tradisional.

Jumlah TKI yang tercatat pertama kali pada 1983, yakni sebanyak 27.671 orang. Mereka bekerja di delapan negara. Jumlah itu membengkak pada 1992 yang mencapai 158.750 orang. Celakanya, dari jumlah TKI di luar negeri itu, mayoritas didominasi perempuan.

Setelah 1980, pemerintah baru menetapkan regulasi untuk mengatur pengiriman TKI karena pemerintah melihat nilai positif dan nilai ekonomis tinggi. Dalam buku berjudul: Sejarah kecil "petite histoire" Indonesia, yang ditulis Rosihan Anwar, orang malaysia menyebut TKI dengan sebutan Indon, yang artinya bodoh, tidak kompeten dalam bekerja dan cenderung berbuat kriminal.

Pertanyaannya, sampai kapan Indonesia bakal jadi pemasok TKI ini?

Sumber:  http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-asal-usul-dan-sejarah-tki-pertama-kali.html