Gotot Prakoso tercenung sejenak ketika seorang mahasiswa di sebuah
kampus film di Amerika Serikat bertanya tentang wayang. Ketua Asosiasi
Film Animasi Indonesia (ASIFA) itu baru paham dengan pertanyaan lanjutan
dari mahasiswa tadi. Kepada dia, mahasiswa itu mengaku penasaran karena
seni wayang sering menjadi bahasan terdepan dalam mata kuliah sejarah
film animasi dunia, terutama sejak United Nations on Educational,
Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merestui wayang sebagai
kesenian asli Indonesia.
Gotot, dosen sekaligus ketua jurusan
animasi dalam Fakultas Perfilman di Institute Kesenian Jakarta, itu
menjelaskan wayang memang kesenian asli Indonesia. Ada wayang kulit di
Jawa Timur dan Jawa Tengah, Wayang Golek di Jawa Barat, dan beberapa
kesenian wayang di Sumatera dan Kalimantan. ”Jadi wayang itu memang
diajarkan dan ada pada bab pertama buku-buku sejarah film animasi yang
diajarkan di seluruh kampus film dunia,” ujarnya kepad merdeka.com,
Jumat pekan lalu.
Bentuk wayang yang warna-warni dan bisa dilihat
dari dua sisi menjadi sebuah desain animasi unik. Apalagi dalam setiap
pementasan, kesenian khas Indonesia itu sudah mempertimbangkan tata
letak lampu, iringan komposisi musik, dialog, bisa digerakkan mengikuti
alur cerita, dan pementasannya bisa dinikmati dari dua sudut berbeda,
depan dan belakang.
Sebab itu, menukil dari buku Karya John Halas
hingga Walt Disney tentang pemahaman animasi, memang tak mengherankan
jika wayang sebagai salah satu bagian sejarah perkembangan karya
animasi. Saat manusia menafsir gerak kehidupan atau tentang ‘hidup’ yang
diindikasikan dengan gerak dan memiliki makna serta jiwa, itu sesuai
pengertian anima dalam bahasa Yunani, dan animate dalam bahasa inggris,
sebagai asal dari kata animasi.
Lalu bagaimana perkembangan film
animasi di Indonesia? Gotot tersenyum, lalu berkata, animasi di
Indonesia terus tumbuh seiring perkembangan teknologi. Dari segi
pendidikan misalnya. Menurut dia, sekarang sudah ada ribuan sekolah
membuka kelas multimedia dengan menyisipkan pelajaran membuat animasi.
Cuma
masalahnya pada pengembangan teknologi. Para animator muda Indonesia
sebenarnya secara teknik sudah mampu membuat karya kelas dunia. Hanya
saja, ketika karya itu disodorkan ke rumah-rumah produksi asing, ditolak
karena karya mereka digarap memakai program bajakan. Padahal bagi luar
negeri, penggarapan karya menggunakan program komputer menjadi salah
satu syarat membuat karya animasi.
Menurut dia, pemerintah kurang
begitu memperhatikan dunia perfilman, khususnya animasi. Suatu ketika,
kata dia, menteri komunikasi dan informatika pernah mendorong penggunaan
program linux, yang bisa mudah dikembangkan oleh penggunanya.
Masalahnya ketika Bill Gates, pemilik Microsoft, datang ke Indonesia.
”Rencana itu tidak terdengar lagi. Padahal harga Microsoft asli mahal.
Itu memberatkan animator pemula,” ujarnya.
Belum lagi masalah
industri pertelevisian di tanah Air enggan membeli karya animator dalam
negeri karena persoalan harga. Mereka lebih memilih film animasi asing
dengan harga lebih murah, cukup Rp 5 juta per serial. Padahal untuk
membuat film animasi lokal, harga yang disodorkan minimal Rp 6 juta per
serial. Kalau pemerintah serius menggalakkan program cinta tanah air,
mestinya pemerintah bisa membantu animator itu masuk ke industri
pertelevisian tanah air.
“Caranya terserah. Bisa membuat regulasi
atau bentuk apapun,” ujarnya. Terlebih, merujuk syarat yang ditetapkan
asosiasi film animasi dunia, Indonesia baru bisa disebut negara produsen
animasi jika tiga tahun berturut-turut televisi lokal sanggup
menayangkan film animasi buatan lokal. ”Masalahnya, pemerintah mau nggak
mendukung mereka berkarya di dalam negeri?”
Sumber: http://www.merdeka.com/khas/wayang-rujukan-animator-dunia-animasi-indonesia-2.html
Senin, 16 April 2012
Animasi Indonesia: Berguru ke Walt Disney
Catatan pada lembaran sejarah animasi Indonesia dibuka oleh kisah Dukut
Hendronoto. Lelaki dengan panggilan beken Pak Ooq ini ialah animator
pertama yang mendapat kesempatan belajar ke Studio Walt Disney di
Amerika Serikat pada 1952. Dia diminta oleh Presiden Soekarno buat
berguru ilmu pembuatan film animasi ke studio tersohor milik Walter
Elias Disney, tokoh yang mempopulerkan Mikey Mouse, Goofy, dan Donald
Duck.
Sepulang dari sana dua tahun kemudian, dia langsung mendapat proyek membuat film animasi pertama kali dari pemerintah. Film animasi yang ia garap waktu itu bercorak propaganda dengan menggunakan teknik gambar dua dimensi, sel transparan, atau lembaran tembus pandang, hitam dan putih. Pemerintah menugasi Ooq membuat film animasi untuk mengkampanyekan pemilihan umum. Akhirnya dibuat film berjudul “Si Doel Memilih”.
Film animasi pendek bikinan Ooq itu diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN).“Saya sudah agak lupa film itu. Sekarang di mana saya tidak tahu dokumentasinya. Maklum, negara ini buruk kalau soal pengarsipan,” kata Gotot Prakosa, dosen Fakultas Perfilman untuk Jurusan Animasi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kepada merdeka.com Jumat pekan lalu.
Menurut Gotot, sejak saat itu para animator Indonesia menyepakati karya Ooq sebagai titik tolak kemunculan animasi pertama di Indonesia. Perkembangan selanjutnya, film animasi hanya sebagai pelengkap. Misalnya untuk membuat judul, pendukung film dokumenter, keperluan pelengkap grafis, menerangkan tentang lokasi dan denah animasi. Baru pada 1970-an, ketika Televisi Republik Indonesia (TVRI) menggaung, teknik animasi mulai sering digunakan untuk membuat iklan film pendek.
Salah satu perusahaan film iklan yang menggunakan teknik animasi kala itu adalah Anima Indah, perusahaan rumah produksi milik Luqman Lateef Keele, seniman film asal Amerika Serikat yang begitu mencintai kebudayaan Indonesia. Di studio film Anima itulah banyak pemuda-pemuda Indonesia belajar. Di bawah asuhan Luqman, mereka mengikuti pelatihan ke studio Group Dart dan Toei di Tokyo, Jepang. Misalnya ada nama Darmoro, Purnomo, Partono, Denny Allaudsyah Djonaidi, Wagiono Sunarto, Heru, dan Sudarmaji.
Setelah bertahan beberapa tahun, Anima Indah akhirnya bubar juga pada 1976. Regenerasi pun terjadi. Sejak saat itulah bermunculan animator-animator muda berbakat di Indonesia. Menurut Gotot, dunia animasi Indonesia sebenarnya tidak pernah pasang-surut. Kondisi mereka pasang terus. Buktinya, setelah kemunculan karya-karya Ooq dan generasi terdekatnya, berikutnya muncul nama Pak Raden pada pertengahan 1980-an, masih segenerasi dengan Gatot.
Pak Raden sempat berguru membuat film animasi ke Perancis. Sepulang dari sana, bersama PPFN dia membuat serial “Si Unyil”, tayangan boneka animasi yang sempat populer hingga awal 1990-an. Setelah Si Unyil tenggelam, sempat muncul film animasi “Satria Nusantara”. Namun segera melorot. Gotot, yang juga Ketua Asosiasi Film Animasi Indonesia (ASIFA) menjelaskan perbedaan karya film animasi dulu dan sekarang jelas pada perkembangan teknologi yang digunakan.
Revolusi teknologi menuntut para animator menghasilkan kualitas karya lebih baik. Perbedaan lain, dulu banyak animator yang mendapat proyek dari pemerintah untuk membuat serial film animasi yang bercerita tentang legenda, seni, dan budaya lokal. Tapi sekarang tidak. Para animator bekerja sendiri di rumah-rumah produksi milik mereka.”Tapi persoalannya sama. Karya film animasi di dalam negeri membutuhkan ongkos lebih besar. Itu kenapa banyak stasiun televisi membeli film animasi asing,” ujar Gatot
Misalnya untuk pembuatan film animasi panjang berbau sejarah, budaya, atau cerita khas Indonesia. Sebenarnya animator lokal sudah banyak mampu membuat dengan kualitas bagus. Tapi semua mentok urusan ongkos. Contohnya untuk menyalin hasil karya dari tiga dimensi ke pita film yang diputar di Bioskop, harganya bisa miliaran rupiah. Belum ditambah biaya iklan dan suap ke bioskop agar mendapat jatah pemutaran pertama.”Makanya banyak animator kita memilih bekerja pada rumah-rumah produksi asing. Anak didik saya banyak seperti itu. Mereka tetap hidup,” katanya.
Sebut saja nama Rini Sugiarto, salah satu animator Indonesia yang terlibat film animasi petualangan tokoh Tintin yang legendaris. Film garapan sutradara Steven Spielberg dan Peter Jacson itu disebut-sebut sebagai film animasi tigA dimensi tercanggih abad ini. Bagi Gotot, orang-orang seperti Rini itu banyak di Indonesia. Mereka sudah biasa bekerja untuk rumah-rumah produksi asing di luar negeri.”Jadi nggak usah khawatir, mereka masih bisa hidup meski kelihatanya tenang,” ujarnya.
Sumber: http://www.merdeka.com/khas/berguru-ke-walt-disney-animasi-indonesia-1.html
Sepulang dari sana dua tahun kemudian, dia langsung mendapat proyek membuat film animasi pertama kali dari pemerintah. Film animasi yang ia garap waktu itu bercorak propaganda dengan menggunakan teknik gambar dua dimensi, sel transparan, atau lembaran tembus pandang, hitam dan putih. Pemerintah menugasi Ooq membuat film animasi untuk mengkampanyekan pemilihan umum. Akhirnya dibuat film berjudul “Si Doel Memilih”.
Film animasi pendek bikinan Ooq itu diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN).“Saya sudah agak lupa film itu. Sekarang di mana saya tidak tahu dokumentasinya. Maklum, negara ini buruk kalau soal pengarsipan,” kata Gotot Prakosa, dosen Fakultas Perfilman untuk Jurusan Animasi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kepada merdeka.com Jumat pekan lalu.
Menurut Gotot, sejak saat itu para animator Indonesia menyepakati karya Ooq sebagai titik tolak kemunculan animasi pertama di Indonesia. Perkembangan selanjutnya, film animasi hanya sebagai pelengkap. Misalnya untuk membuat judul, pendukung film dokumenter, keperluan pelengkap grafis, menerangkan tentang lokasi dan denah animasi. Baru pada 1970-an, ketika Televisi Republik Indonesia (TVRI) menggaung, teknik animasi mulai sering digunakan untuk membuat iklan film pendek.
Salah satu perusahaan film iklan yang menggunakan teknik animasi kala itu adalah Anima Indah, perusahaan rumah produksi milik Luqman Lateef Keele, seniman film asal Amerika Serikat yang begitu mencintai kebudayaan Indonesia. Di studio film Anima itulah banyak pemuda-pemuda Indonesia belajar. Di bawah asuhan Luqman, mereka mengikuti pelatihan ke studio Group Dart dan Toei di Tokyo, Jepang. Misalnya ada nama Darmoro, Purnomo, Partono, Denny Allaudsyah Djonaidi, Wagiono Sunarto, Heru, dan Sudarmaji.
Setelah bertahan beberapa tahun, Anima Indah akhirnya bubar juga pada 1976. Regenerasi pun terjadi. Sejak saat itulah bermunculan animator-animator muda berbakat di Indonesia. Menurut Gotot, dunia animasi Indonesia sebenarnya tidak pernah pasang-surut. Kondisi mereka pasang terus. Buktinya, setelah kemunculan karya-karya Ooq dan generasi terdekatnya, berikutnya muncul nama Pak Raden pada pertengahan 1980-an, masih segenerasi dengan Gatot.
Pak Raden sempat berguru membuat film animasi ke Perancis. Sepulang dari sana, bersama PPFN dia membuat serial “Si Unyil”, tayangan boneka animasi yang sempat populer hingga awal 1990-an. Setelah Si Unyil tenggelam, sempat muncul film animasi “Satria Nusantara”. Namun segera melorot. Gotot, yang juga Ketua Asosiasi Film Animasi Indonesia (ASIFA) menjelaskan perbedaan karya film animasi dulu dan sekarang jelas pada perkembangan teknologi yang digunakan.
Revolusi teknologi menuntut para animator menghasilkan kualitas karya lebih baik. Perbedaan lain, dulu banyak animator yang mendapat proyek dari pemerintah untuk membuat serial film animasi yang bercerita tentang legenda, seni, dan budaya lokal. Tapi sekarang tidak. Para animator bekerja sendiri di rumah-rumah produksi milik mereka.”Tapi persoalannya sama. Karya film animasi di dalam negeri membutuhkan ongkos lebih besar. Itu kenapa banyak stasiun televisi membeli film animasi asing,” ujar Gatot
Misalnya untuk pembuatan film animasi panjang berbau sejarah, budaya, atau cerita khas Indonesia. Sebenarnya animator lokal sudah banyak mampu membuat dengan kualitas bagus. Tapi semua mentok urusan ongkos. Contohnya untuk menyalin hasil karya dari tiga dimensi ke pita film yang diputar di Bioskop, harganya bisa miliaran rupiah. Belum ditambah biaya iklan dan suap ke bioskop agar mendapat jatah pemutaran pertama.”Makanya banyak animator kita memilih bekerja pada rumah-rumah produksi asing. Anak didik saya banyak seperti itu. Mereka tetap hidup,” katanya.
Sebut saja nama Rini Sugiarto, salah satu animator Indonesia yang terlibat film animasi petualangan tokoh Tintin yang legendaris. Film garapan sutradara Steven Spielberg dan Peter Jacson itu disebut-sebut sebagai film animasi tigA dimensi tercanggih abad ini. Bagi Gotot, orang-orang seperti Rini itu banyak di Indonesia. Mereka sudah biasa bekerja untuk rumah-rumah produksi asing di luar negeri.”Jadi nggak usah khawatir, mereka masih bisa hidup meski kelihatanya tenang,” ujarnya.
Sumber: http://www.merdeka.com/khas/berguru-ke-walt-disney-animasi-indonesia-1.html
Selasa, 10 April 2012
Berebut nyaman di trotoar Jakarta
Trotoar Jalan Prof. Dr. Satrio yang lebarnya sekitar dua meter, rupanya
belum cukup membuat Nuraini nyaman. Parkiran ojek dadakan, plus
pengasong jalanan, membuat dia beringsutan mencari celah melangkah.
Bahkan, dia sering harus berjalan ke tepian jalan, hanya sekadar untuk
melintas ke kantornya di gedung Word Trade Centre (WTC), Jalan Jenderal
Sudirman. Selama ini, trotoar memang terkesan jauh dari aman bagi para
pejalan kaki.
Seperti dialami lelaki 35 tahun ini sejak mulai bekerja lima tahun lalu. “Prihatin sih iya. Mau lewat bagaimana, trotoarnya habis buat pangkalan ojek. Kadang kesel juga. Belum tuh trotoar rusak, kalau hujan becek, seperti nggak diurus,” kata dia mengeluh kepada merdeka.com Senin pekan lalu. Pemerintah kota, menurut dia, juga terkesan kurang memelihara. Buktinya di beberapa titik banyak yang berlobang. Pedestrian mulus justru banyak ditemui di depan hotel dan gedung-gedung megah.
Celakanya, trotoar-trotoar mulus itu biasa digunakan tempat mangkal para pengasong dan tukang ojek. Misalnya, di trotoar Jalan Prof. Dr. Satrio sekitar Mal Ambassador, Hotel Indonesia, di bawah jembatan penyeberangan sebelah kampus Universitas Katolik Atmajaya dan di depan gedung Bursa Efek Jakarta. Sesungguhnya Petugas Keamanan dan Ketertiban Kota (Kamtib) tidak tinggal diam.”Diusir sudah, tapi ya gitu, pasti balik lagi,” ujar staf Bidang Operasional WTC itu.
Dari pantauan merdeka.com, meski relatif longgar, di beberapa titik sepanjang Jalan Sudirman masih ada beberapa lokasi digunakan sebagai pangkalan ojek dan tempat jualan. Mulai penjual nasi bungkus, jajanan, kue, hingga penjual kopi keliling. Padahal Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu-lintas Jalan sudah tegas melarang penggunanaan badan jalan dan trotoar sebagai tempat parkir dan usaha dalam bentuk apapun.
Sebelumnya larangan juga diatur dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Di beleid itu juga terdapat ketentuan pidana sangat tegas, 18 bulan penjara atau denda Rp 1,5 miliar bagi setiap orang yang sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi trotoar.
Tapi laiknya peribahasa lama,”Harimau mengaum takkan menerkam”. Meski sudah memiliki pegangan hukum untuk menertibkan, sejumlah petugas kamtib malah cuek. Bahkan,beberapa di antara mereka malah meminta uang kepada para pengasong atau tukang ojek.”Ini uangnya, untuk keamanan,” kata Yati sambil menyodorkan uang lembaran dua ribuan kepada Rasmi, teman seprofesinya.
Rasmi dan Yati bukan tak tahu usaha mereka melanggar aturan. Mereka sadar jika ketangkap petugas kamtib pasti akan dibawa ke lingkungan pondok sosial. Namun karena urusan perut mereka tetap nekat mencari aman. Menyuap dengan sebungkus rokok, atau beberapa lembar uang dua ribuan kepada petugas penertiban. ”Dari pada nanti dimasukkan liponsos, didenda tiga ratus ribu, terus dipulangkan,” ujar Rasmi.
Yati dan Rasmi adalah pengasong asal Purwokerto, Jawa Tengah. Yati, nenek 50 tahun ini sudah satu dasawarsa berjualan kopi seduh dan gorengan di sepanjang trotoar Jalan Sudirman. Rasmi mengaku baru lima tahun memulung untung dari berjualan nasi bungkus. Pelanggan mereka cuma tukang ojek dan pekerja proyek pembangunan gedung. Tapi kadang satpam gedung dan beberapa karyawan kantor ikut nimbrung sekadar memesan kopi.
”Lumayan sih, harganya lebih murah, cuma tujuh ribu. Dibanding nasi warteg sebelas ribu,” kata Andik, seorang pekerja proyek bangunan di kawasan Senayan. Sudah sebulan dia bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta. Selama itu, dia berlangganan nasi bungkus Rasmi. Alasannya apalagi kalau bukan harga murah meriah.”Gaji kuli berapa sih, kalau nggak makan di sini, mana bisa bawa uang pulang.”
Sama-sama pengguna trotoar, kepentingan Nuraini, Rasmi, dan Andik jelas berbeda. Nuraini dari kelas menengah karena pegawai kantoran jelas ingin akses para pejalan kaki tidak terhambat, teratur, dan nyaman. Sementara kehendak Rasmi berbeda. Sebagai orang kecil tentu dia ingin usahanya aman. Berjualan di trotoar nyaman, tidak dikejar-kejar petugas ketertiban.
Dengan begitu dia bisa medapat untung cukup buat menghidupi dua anaknya yang masih SMP dan SMA. Sedangkan Andik, kuli bangunan baru lulus SMA, tak bergitu risau soal aturan. Persoalan ketertiban atau keamanan bukanlah nomor satu.”Yang penting saya dapat makan murah. Saya tidak tahu kalau ada aturan-aturan (dilarang berjualan di trotoar) itu,” ujarnya diiringi tawa.
Sumber: http://www.merdeka.com/khas/berebut-nyaman-di-trotoar-jakarta-sengkarut-trotoar-jakarta-2.html
Seperti dialami lelaki 35 tahun ini sejak mulai bekerja lima tahun lalu. “Prihatin sih iya. Mau lewat bagaimana, trotoarnya habis buat pangkalan ojek. Kadang kesel juga. Belum tuh trotoar rusak, kalau hujan becek, seperti nggak diurus,” kata dia mengeluh kepada merdeka.com Senin pekan lalu. Pemerintah kota, menurut dia, juga terkesan kurang memelihara. Buktinya di beberapa titik banyak yang berlobang. Pedestrian mulus justru banyak ditemui di depan hotel dan gedung-gedung megah.
Celakanya, trotoar-trotoar mulus itu biasa digunakan tempat mangkal para pengasong dan tukang ojek. Misalnya, di trotoar Jalan Prof. Dr. Satrio sekitar Mal Ambassador, Hotel Indonesia, di bawah jembatan penyeberangan sebelah kampus Universitas Katolik Atmajaya dan di depan gedung Bursa Efek Jakarta. Sesungguhnya Petugas Keamanan dan Ketertiban Kota (Kamtib) tidak tinggal diam.”Diusir sudah, tapi ya gitu, pasti balik lagi,” ujar staf Bidang Operasional WTC itu.
Dari pantauan merdeka.com, meski relatif longgar, di beberapa titik sepanjang Jalan Sudirman masih ada beberapa lokasi digunakan sebagai pangkalan ojek dan tempat jualan. Mulai penjual nasi bungkus, jajanan, kue, hingga penjual kopi keliling. Padahal Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu-lintas Jalan sudah tegas melarang penggunanaan badan jalan dan trotoar sebagai tempat parkir dan usaha dalam bentuk apapun.
Sebelumnya larangan juga diatur dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Di beleid itu juga terdapat ketentuan pidana sangat tegas, 18 bulan penjara atau denda Rp 1,5 miliar bagi setiap orang yang sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi trotoar.
Tapi laiknya peribahasa lama,”Harimau mengaum takkan menerkam”. Meski sudah memiliki pegangan hukum untuk menertibkan, sejumlah petugas kamtib malah cuek. Bahkan,beberapa di antara mereka malah meminta uang kepada para pengasong atau tukang ojek.”Ini uangnya, untuk keamanan,” kata Yati sambil menyodorkan uang lembaran dua ribuan kepada Rasmi, teman seprofesinya.
Rasmi dan Yati bukan tak tahu usaha mereka melanggar aturan. Mereka sadar jika ketangkap petugas kamtib pasti akan dibawa ke lingkungan pondok sosial. Namun karena urusan perut mereka tetap nekat mencari aman. Menyuap dengan sebungkus rokok, atau beberapa lembar uang dua ribuan kepada petugas penertiban. ”Dari pada nanti dimasukkan liponsos, didenda tiga ratus ribu, terus dipulangkan,” ujar Rasmi.
Yati dan Rasmi adalah pengasong asal Purwokerto, Jawa Tengah. Yati, nenek 50 tahun ini sudah satu dasawarsa berjualan kopi seduh dan gorengan di sepanjang trotoar Jalan Sudirman. Rasmi mengaku baru lima tahun memulung untung dari berjualan nasi bungkus. Pelanggan mereka cuma tukang ojek dan pekerja proyek pembangunan gedung. Tapi kadang satpam gedung dan beberapa karyawan kantor ikut nimbrung sekadar memesan kopi.
”Lumayan sih, harganya lebih murah, cuma tujuh ribu. Dibanding nasi warteg sebelas ribu,” kata Andik, seorang pekerja proyek bangunan di kawasan Senayan. Sudah sebulan dia bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta. Selama itu, dia berlangganan nasi bungkus Rasmi. Alasannya apalagi kalau bukan harga murah meriah.”Gaji kuli berapa sih, kalau nggak makan di sini, mana bisa bawa uang pulang.”
Sama-sama pengguna trotoar, kepentingan Nuraini, Rasmi, dan Andik jelas berbeda. Nuraini dari kelas menengah karena pegawai kantoran jelas ingin akses para pejalan kaki tidak terhambat, teratur, dan nyaman. Sementara kehendak Rasmi berbeda. Sebagai orang kecil tentu dia ingin usahanya aman. Berjualan di trotoar nyaman, tidak dikejar-kejar petugas ketertiban.
Dengan begitu dia bisa medapat untung cukup buat menghidupi dua anaknya yang masih SMP dan SMA. Sedangkan Andik, kuli bangunan baru lulus SMA, tak bergitu risau soal aturan. Persoalan ketertiban atau keamanan bukanlah nomor satu.”Yang penting saya dapat makan murah. Saya tidak tahu kalau ada aturan-aturan (dilarang berjualan di trotoar) itu,” ujarnya diiringi tawa.
Sumber: http://www.merdeka.com/khas/berebut-nyaman-di-trotoar-jakarta-sengkarut-trotoar-jakarta-2.html
Inspirator film 'Titanic' ini pernah berkunjung ke Indonesia
Banyak orang sepertinya pernah menyaksikan film Titanic yang sempat
dinobatkan film terlaris sepanjang masa. Bahkan beberapa sengaja lebih
dari sekali menonton film itu. Para penggemar Titanic tentu juga
mengidolakan tokoh utama Rose DeWitt Bukater yang dibintangi aktris
Inggris Kate Winslet.
Namun tahukah anda bahwa kisah tokoh Rose di film itu dibikin berdasarkan sebuah kisah hidup orang yang benar-benar nyata, bahkan pernah berkunjung ke Indonesia?
Sosok perempuan tangguh yang memikat banyak lelaki dalam kehidupan nyata itu bernama Helen Churchill Candee. Lahir 5 Oktober 1858. Dia putri seorang pedagang yang mencintai kebebasan. Sempat menikah dan punya dua anak, Candee memilih bercerai karena sang suami suka memukul.
Pada masanya, dia seorang pegiat feminisme yang aktif, seperti diceritakan ulang surat kabar the Daily Mail, Senin (2/4). Candee menerbitkan buku panduan supaya perempuan bisa mencari uang sendiri. Tema bukunya sangat tidak lazim di zaman cuma lelaki yang boleh mencari nafkah.
Karena gemar bertualang, Candee memutuskan ikut pelayaran pertama Kapal Titanic yang nahas itu. Dia salah satu penumpang yang selamat.
Saat itu usianya 53. Beberapa bulan setelah tragedi itu, dia menerbitkan pengalamannya menjadi penumpang selamat di majalah Amerika Collier’s Weekly.
Nah, masalahnya kemudian, nyaris semua adegan-adegan kunci di film Titanic sama persis dengan apa yang ada di catatan yang ditulis Candee. Pengalaman selingkuh di kapal pesiar termahal di masanya itu? Candee mengalaminya, bahkan dengan empat orang lelaki sekaligus. Bedanya, semua penganggumnya juga seumuran.
Dilukis dalam keadaan telanjang? Ada pula, yang melakukannya adalah sang penggemar bernama Edward Kent, seorang arsitek.
Bagaimana dengan adegan paling terkenal berdiri di atas palka sambil merentangkan tangan? Candee benar-benar melakukannya di sore menjelang kapal itu menabrak gunung es bersama selingkuhan lainnya Hugh Woolner.
Selamat dari kecelakaan itu, Candee tidak kapok bepergian. Dia menjadi kontributor majalah National Geographic. Saat bertualang di awal Perang Dunia II, dia sempat berkunjung ke Indonesia, saat itu masih bernama Hindia Belanda. Dia dikabarkan singgah ke Sumatera, Jawa, dan Celebes (Sulawesi).
Selain mampir ke nusantara, dia juga pernah ke Kamboja, Jepang, dan China. Candee terus menulis dan keliling dunia sendirian. Dia wafat di usia 90 pada 1949.
Saat film Titanic diluncurkan pada 1997, sang sutradara sekaligus penulis skenario James Cameron bilang karakter Rose di filmnya hanya rekaan.
Dia mengakui cerita pengalaman Candee dan Rose selama menjadi penumpang Titanic sama persis. Cameron berdalih dia baru mengetahui kisah hidup Candee setelah film itu selesai diproduksi.
Banyak pihak meragukan pengakuan Cameron. Dia punya rekam jejak sebagai penjiplak gagasan cerita. Film arahannya yang dibuat dalam teknologi 3D, Avatar, banyak dituding menjiplak inti cerita rakyat Indian 'Pocahontas'.
Agaknya sebagai permintaan maaf secara tidak langsung, Cameron akhirnya menyertakan sosok Candee di film dokumenter terbarunya berjudul Ghost of the Abyss yang juga sedikit menyinggung tragedi Titanic. (www.merdeka.com)
Namun tahukah anda bahwa kisah tokoh Rose di film itu dibikin berdasarkan sebuah kisah hidup orang yang benar-benar nyata, bahkan pernah berkunjung ke Indonesia?
Sosok perempuan tangguh yang memikat banyak lelaki dalam kehidupan nyata itu bernama Helen Churchill Candee. Lahir 5 Oktober 1858. Dia putri seorang pedagang yang mencintai kebebasan. Sempat menikah dan punya dua anak, Candee memilih bercerai karena sang suami suka memukul.
Pada masanya, dia seorang pegiat feminisme yang aktif, seperti diceritakan ulang surat kabar the Daily Mail, Senin (2/4). Candee menerbitkan buku panduan supaya perempuan bisa mencari uang sendiri. Tema bukunya sangat tidak lazim di zaman cuma lelaki yang boleh mencari nafkah.
Karena gemar bertualang, Candee memutuskan ikut pelayaran pertama Kapal Titanic yang nahas itu. Dia salah satu penumpang yang selamat.
Saat itu usianya 53. Beberapa bulan setelah tragedi itu, dia menerbitkan pengalamannya menjadi penumpang selamat di majalah Amerika Collier’s Weekly.
Nah, masalahnya kemudian, nyaris semua adegan-adegan kunci di film Titanic sama persis dengan apa yang ada di catatan yang ditulis Candee. Pengalaman selingkuh di kapal pesiar termahal di masanya itu? Candee mengalaminya, bahkan dengan empat orang lelaki sekaligus. Bedanya, semua penganggumnya juga seumuran.
Dilukis dalam keadaan telanjang? Ada pula, yang melakukannya adalah sang penggemar bernama Edward Kent, seorang arsitek.
Bagaimana dengan adegan paling terkenal berdiri di atas palka sambil merentangkan tangan? Candee benar-benar melakukannya di sore menjelang kapal itu menabrak gunung es bersama selingkuhan lainnya Hugh Woolner.
Selamat dari kecelakaan itu, Candee tidak kapok bepergian. Dia menjadi kontributor majalah National Geographic. Saat bertualang di awal Perang Dunia II, dia sempat berkunjung ke Indonesia, saat itu masih bernama Hindia Belanda. Dia dikabarkan singgah ke Sumatera, Jawa, dan Celebes (Sulawesi).
Selain mampir ke nusantara, dia juga pernah ke Kamboja, Jepang, dan China. Candee terus menulis dan keliling dunia sendirian. Dia wafat di usia 90 pada 1949.
Saat film Titanic diluncurkan pada 1997, sang sutradara sekaligus penulis skenario James Cameron bilang karakter Rose di filmnya hanya rekaan.
Dia mengakui cerita pengalaman Candee dan Rose selama menjadi penumpang Titanic sama persis. Cameron berdalih dia baru mengetahui kisah hidup Candee setelah film itu selesai diproduksi.
Banyak pihak meragukan pengakuan Cameron. Dia punya rekam jejak sebagai penjiplak gagasan cerita. Film arahannya yang dibuat dalam teknologi 3D, Avatar, banyak dituding menjiplak inti cerita rakyat Indian 'Pocahontas'.
Agaknya sebagai permintaan maaf secara tidak langsung, Cameron akhirnya menyertakan sosok Candee di film dokumenter terbarunya berjudul Ghost of the Abyss yang juga sedikit menyinggung tragedi Titanic. (www.merdeka.com)
Senin, 09 April 2012
Peringatan 44 Tahun Tewasnya Martin Luther King
Pada 4 April 1968, pejuang hak asasi manusia
berkulit hitam, Martin Luther King Jr, tewas ditembak. Insiden terjadi
tepat di hotel tempatnya menginap, Lorraine Motel, Memphis, Tennessee,
Amerika Serikat. King tewas setelah peluru bersarang di rahang dan
melukai syaraf tulang belakangnya.
Beberapa bulan sebelum kematiannya, King kerap menyuarakan protes atas ketidakadilan pemerataan ekonomi di Amerika, terutama untuk kaum Afrika-Amerika. Ia berhasil mengorganisir gerakan protes yang terdiri atas berbagai lapisan ras untuk melakukan unjuk rasa di Washington.
Bahkan sehari sebelum tewas, King memberikan pidato terakhirnya yang terkenal, "Kita akan mengalami kesulitan di depan. Tapi tidak masalah, karena saya sudah pernah berkunjung ke tingginya puncak gunung. Dia (Tuhan) mengizinkan saya menuju ke puncaknya."
"Saya sempat melihat ke bawah, dan saya melihat Tanah yang Sudah Dijanjikan. Mungkin saya tidak akan pergi ke sana bersama Anda. Tapi saya mau Anda tahu, bahwa malam ini, kita sebagai manusia, akan tiba di Tanah yang Sudah Dijanjikan," ujar King saat itu.
Sore hari sesudah kejadian, polisi menemukan senjata Remington .30-06 dengan sidik jari yang mengarah pada satu tersangka: James Earl Ray. Ray tertangkap di Bandara London oleh Scotland Yard ketika berusaha terbang ke Belgia. Meski mengajukan ada konspirasi yang menjebaknya, Ray tetap dituntut hukuman penjara selama 99 tahun.
Kematian King memicu kerusuhan di beberapa kota di AS. Garda Nasional AS terpaksa diturunkan di Memphis dan Washington DC untuk mengamankan keadaan. Jenazah King sendiri baru dimakamkan pada 9 April di kampung halamannya, Atlanta, Georgia. Ratusan ribu orang berbaris di sepanjang jalan sebagai bentuk penghormatan padanya.
(Zika Zakiya. National Gheographic/ Sumber: History Channel)
Beberapa bulan sebelum kematiannya, King kerap menyuarakan protes atas ketidakadilan pemerataan ekonomi di Amerika, terutama untuk kaum Afrika-Amerika. Ia berhasil mengorganisir gerakan protes yang terdiri atas berbagai lapisan ras untuk melakukan unjuk rasa di Washington.
Bahkan sehari sebelum tewas, King memberikan pidato terakhirnya yang terkenal, "Kita akan mengalami kesulitan di depan. Tapi tidak masalah, karena saya sudah pernah berkunjung ke tingginya puncak gunung. Dia (Tuhan) mengizinkan saya menuju ke puncaknya."
"Saya sempat melihat ke bawah, dan saya melihat Tanah yang Sudah Dijanjikan. Mungkin saya tidak akan pergi ke sana bersama Anda. Tapi saya mau Anda tahu, bahwa malam ini, kita sebagai manusia, akan tiba di Tanah yang Sudah Dijanjikan," ujar King saat itu.
Sore hari sesudah kejadian, polisi menemukan senjata Remington .30-06 dengan sidik jari yang mengarah pada satu tersangka: James Earl Ray. Ray tertangkap di Bandara London oleh Scotland Yard ketika berusaha terbang ke Belgia. Meski mengajukan ada konspirasi yang menjebaknya, Ray tetap dituntut hukuman penjara selama 99 tahun.
Kematian King memicu kerusuhan di beberapa kota di AS. Garda Nasional AS terpaksa diturunkan di Memphis dan Washington DC untuk mengamankan keadaan. Jenazah King sendiri baru dimakamkan pada 9 April di kampung halamannya, Atlanta, Georgia. Ratusan ribu orang berbaris di sepanjang jalan sebagai bentuk penghormatan padanya.
(Zika Zakiya. National Gheographic/ Sumber: History Channel)
Mengenang 100 Tahun Tragedi Titanic
Titanic tenggelam dini hari pada tanggal
14 April 1912 setelah menabrak gunung es di perairan Atlantik. Kini
bangkai kapal yang terkubur lebih dari 4 kilometer di dasar Samudra
Atlantik ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan budaya bawah laut.
Tercatat lebih dari 1.500 jiwa, terdiri dari penumpang dan para awak kapal tak terkecuali, yang tenggelam karena kurangnya sekoci penyelamat. Nahasnya, saat itu merupakan pelayaran pertama bagi Titanic. Titanic melakukan perjalanan dari Southampton, Inggris menuju New York, Amerika Serikat.
Untuk memperingati sekaligus mengenang peristiwa tersebut, akan ada banyak upacara peringatan pula di seluruh dunia. Salah satunya Titanic Museum di Forge, Tennessee misalnya, akan mengadakan rangkaian bertajuk "A Night To Remember" pada 14 April mendatang, dengan mengundang para korban selamat serta keturunan dari semua korban yang masih hidup.
"A Night to Remember" akan menggelar pertunjukan simulator: musik yang disertai semacam reka-ulang insiden tersebut di replika kapal setinggi 30 meter yang dibangun pada museum. Menurut pihak museum, acara ini digelar untuk memberikan kesempatan bagi para pengunjung, hingga mereka pun dapat menjadi saksi dan bagian dari sejarah Titanic.
Di Amerika Serikat, terdapat dua buah Titanic Museum, yang satunya yaitu di Branson, Missouri. Di Belfast, Irlandia—yang adalah kota tempat sang kapal mewah dibangun—sebuah museum juga siap dibuka.
National Geographic Channel menggarap tayangan dokumenter The Final Word yang menceritakan bagaimana sutradara film Titanic (1997), James Cameron, mengumpulkan para insinyur, arsitek kapal, serta sejarawan untuk mengungkap misteri tenggelamnya kapal Titanic. Sementara Discovery Channel juga menayangkan dokumenter seputar bencana kemanusiaan yang legendaris ini lewat The Aftermath.
(National Gheographic Indonesia/Gloria Samantha)
Tercatat lebih dari 1.500 jiwa, terdiri dari penumpang dan para awak kapal tak terkecuali, yang tenggelam karena kurangnya sekoci penyelamat. Nahasnya, saat itu merupakan pelayaran pertama bagi Titanic. Titanic melakukan perjalanan dari Southampton, Inggris menuju New York, Amerika Serikat.
Untuk memperingati sekaligus mengenang peristiwa tersebut, akan ada banyak upacara peringatan pula di seluruh dunia. Salah satunya Titanic Museum di Forge, Tennessee misalnya, akan mengadakan rangkaian bertajuk "A Night To Remember" pada 14 April mendatang, dengan mengundang para korban selamat serta keturunan dari semua korban yang masih hidup.
"A Night to Remember" akan menggelar pertunjukan simulator: musik yang disertai semacam reka-ulang insiden tersebut di replika kapal setinggi 30 meter yang dibangun pada museum. Menurut pihak museum, acara ini digelar untuk memberikan kesempatan bagi para pengunjung, hingga mereka pun dapat menjadi saksi dan bagian dari sejarah Titanic.
Di Amerika Serikat, terdapat dua buah Titanic Museum, yang satunya yaitu di Branson, Missouri. Di Belfast, Irlandia—yang adalah kota tempat sang kapal mewah dibangun—sebuah museum juga siap dibuka.
National Geographic Channel menggarap tayangan dokumenter The Final Word yang menceritakan bagaimana sutradara film Titanic (1997), James Cameron, mengumpulkan para insinyur, arsitek kapal, serta sejarawan untuk mengungkap misteri tenggelamnya kapal Titanic. Sementara Discovery Channel juga menayangkan dokumenter seputar bencana kemanusiaan yang legendaris ini lewat The Aftermath.
(National Gheographic Indonesia/Gloria Samantha)
Harta Karun Indonesia Dilelang di Singapura
Harta karun berharga yang ditemukan di lepas pantai
Cirebon, Jawa Barat, dilelang kemarin di Singapura. Berbagai artefak
yang berusia sekitar seribu tahun itu bernilai ratusan miliar rupiah.
Harta karun tersebut terdiri atas 250 ribu barang pecah belah dan perhiasan. Meliputi guci keramik, mutiara, hingga emas. Benda-benda bersejarah tersebut berasal dari sebuah kapal China yang tenggelam tidak jauh dari Pelabuhan Cirebon, demikian dilansir surat kabar The Daily Mail, Minggu (1/4).
Benda-benda berharga ini ditemukan delapan tahun lalu oleh nelayan setempat di bangkai kapal yang berada di kedalaman 56 meter. Temuan itu pun mereka laporkan ke Direktorat Cagar Budaya Bawah Air dan Warisan Kolonial Cirebon. Namun, tidak mudah melakukan pengangkatannya karena membutuhkan teknologi canggih.
Beberapa badan internasional pun menawarkan bantuan untuk mengangkut harta karun itu. Dengan melibatkan 22 ribu penyelam, seluruh proses pengangkatan selesai dalam waktu waktu setahun. Peneliti Belgia dari lembaga sejarah Cosmix Uni Emirat Arab, Luc Heymans, menyimpulkan temuan di Cirebon itu merupakan harta karun terbesar di wilayah Asia Tenggara. Ia memperkirakan perhiasan dan barang pecah belah ini berasal dari abad ke-10.
"Kapal pedagang China yang karam itu akan bertolak ke Timur Tengah. Penyebab kandasnya kapal disinyalir akibat cuaca buruk," kata Heymans yang menambahkan kawasan perairan Indonesia berpotensi menyimpan banyak harta karun karena lalu lintas maritim padat di masa lampau. Atas persetujuan pemerintah Indonesia, sebagian harta karun Cirebon kini dilelang di Singapura. Sedangkan sebagian lagi telah diberikan kepada Indonesia.
(Olivia Lewi Pramesti. Sumber: Daily Mail, Merdeka.com)
Harta karun tersebut terdiri atas 250 ribu barang pecah belah dan perhiasan. Meliputi guci keramik, mutiara, hingga emas. Benda-benda bersejarah tersebut berasal dari sebuah kapal China yang tenggelam tidak jauh dari Pelabuhan Cirebon, demikian dilansir surat kabar The Daily Mail, Minggu (1/4).
Benda-benda berharga ini ditemukan delapan tahun lalu oleh nelayan setempat di bangkai kapal yang berada di kedalaman 56 meter. Temuan itu pun mereka laporkan ke Direktorat Cagar Budaya Bawah Air dan Warisan Kolonial Cirebon. Namun, tidak mudah melakukan pengangkatannya karena membutuhkan teknologi canggih.
Beberapa badan internasional pun menawarkan bantuan untuk mengangkut harta karun itu. Dengan melibatkan 22 ribu penyelam, seluruh proses pengangkatan selesai dalam waktu waktu setahun. Peneliti Belgia dari lembaga sejarah Cosmix Uni Emirat Arab, Luc Heymans, menyimpulkan temuan di Cirebon itu merupakan harta karun terbesar di wilayah Asia Tenggara. Ia memperkirakan perhiasan dan barang pecah belah ini berasal dari abad ke-10.
"Kapal pedagang China yang karam itu akan bertolak ke Timur Tengah. Penyebab kandasnya kapal disinyalir akibat cuaca buruk," kata Heymans yang menambahkan kawasan perairan Indonesia berpotensi menyimpan banyak harta karun karena lalu lintas maritim padat di masa lampau. Atas persetujuan pemerintah Indonesia, sebagian harta karun Cirebon kini dilelang di Singapura. Sedangkan sebagian lagi telah diberikan kepada Indonesia.
(Olivia Lewi Pramesti. Sumber: Daily Mail, Merdeka.com)
Siasat calo menjual tiket
Gaya bicara mereka kasak-kusuk. Mereka membaur, berserak di mana-mana;
berdiri di parkiran motor dan mobil, atau sekadar duduk di
warung-warung, hingga ikut antre di muka loket penjualan tiket kereta di
stasiun-stasiun. Menyusuri celah-celah antrean para calon penumpang
kereta, lalu menawarkan tiket gelap kepada para calon penumpang adalah
pekerjaan mereka, para calo tiket kereta.
"Rokok, bang?" kata Samsudin menyapa seorang lelaki di sebelahnya. Bicaranya berbisik-bisik kepada merdeka.com, Ahad (25/3). "Sudah dapat tiket? kalau belum, saya ada dari satpam depan. Harganya seratus ribu, bagaimana?" Samsudin adalah satu dari puluhan, atau mungkin ratusan calo karcis kereta. Mereka mempunyai banyak trik buat memulung untung tanpa harus buntung. Misalnya, menawari kopi, mengajak ngobrol, berkenalan, hingga sekadar menawari rokok dan kemudian tiket.
Samsudin, pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, ini mengaku memiliki jaringan petugas satpam jaga pintu masuk peron di beberapa stasiun di Jakarta, misalnya Tanah Abang dan Pasar Senen. Tiket dia beli Rp 95 ribu kemudian dijual Rp 100 ribu. Kebanyakan tiket yang dijual kelas ekonomi, misalnya kereta Kertajaya dan Gaya Baru Malam jurusan Jakarta-Surabaya. Alasannya, tiket kelas itu kini paling langka.
Berbeda dengan Saipul, calo tiket lain. Dia memiliki semua jenis karcis kereta dari Senen. Tiket dia dapatkan sejak seminggu sebelum hari pemberangkatan. Caranya, memanfaatkan jasa para pengasong yang biasa mangkal di kawasan stasiun Senen, misalnya penjual kopi keliling dan pengecer koran. Mereka diminta memesan tiket lebih dulu dengan imbalan uang Rp 30 ribu.
Setelah tiket terkumpul, dia jual kepada para calon penumpang. Misalnya, harga tiket kereta ekonomi Progo jurusan Jakarta-Yogyakarta, yang resminya Rp 36 ribu, dia jual antara Rp 50 ribu hingga 80 ribu. Dia menegaskan prosedur ketat saat membeli tiket masih dapat diakali. "Itu hanya prosedural saja, tidak harus," kata Saiful.
Ternyata tidak semua orang menikmati pekerjaan menjadi calo, salah satunya Parmin. Kalau calo tidak jeli membaca situasi, kata dia, siap-siaplah digelandang intel polisi. Lelaki separuh abad ini sudah hampir lima tahun berkeliaran di stasiun Senen. Malam hari dia membungkusi nasi yang akan dijual istri dan baru beranjak menjadi calo pada siang hari.
Parmin mengaku mendapat tiket dari seorang anggota TNI. Entah benar atau tidak, ketika ditanya nama tentara itu, dia diam. Menurut dia, saban malam sudah ada orang menyiapkan segepok tiket kereta. Jumlahnya bisa ribuan lembar. Kemudian para calo di lapangan membeli tiket dengan sistem putus. Harganya beragam. misalnya kereta ekonomi Kertajaya, Gaya Baru Malam, dan Matarmaja antara Rp 75 hingga 85 ribu.
Tiket itu dijual kepada para calon penumpang dengan harga bervariasi pula, tergantung waktu penjualan. Misalnya, ketika siang karcis masih dijual mahal antara Rp 120 hingga 130 ribu. Namun sorenya dilepas Rp 100 ribu. Keuntungan menjual tiket ini ternyata besar. Dalam sehari, Parmin membeli 25 lembar karcis. Dari jumlah itu, rata-rata laku 23 lembar
Jika harga belinya rata-rata Rp 85 ribu, maka dengan harga jual Rp 130 ribu, Parmin bisa meraup untung hingga Rp 1 juta per hari."(Jadi calo) ini sampingan. Kerjanya lebih berat dari pada mencangkul, kalau tidak hati-hati, bisa ketangkap," kata pria ringkih yang mengaku dari Blitar, Jawa Timur, ini. Dia mengaku akan berhenti sebagai calo ketika cicilan renovasi tiga rumahnya lunas."Setelah itu konsentrasi jualan nasi bungkus saja," kata dia. (www.merdeka.com)
"Rokok, bang?" kata Samsudin menyapa seorang lelaki di sebelahnya. Bicaranya berbisik-bisik kepada merdeka.com, Ahad (25/3). "Sudah dapat tiket? kalau belum, saya ada dari satpam depan. Harganya seratus ribu, bagaimana?" Samsudin adalah satu dari puluhan, atau mungkin ratusan calo karcis kereta. Mereka mempunyai banyak trik buat memulung untung tanpa harus buntung. Misalnya, menawari kopi, mengajak ngobrol, berkenalan, hingga sekadar menawari rokok dan kemudian tiket.
Samsudin, pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, ini mengaku memiliki jaringan petugas satpam jaga pintu masuk peron di beberapa stasiun di Jakarta, misalnya Tanah Abang dan Pasar Senen. Tiket dia beli Rp 95 ribu kemudian dijual Rp 100 ribu. Kebanyakan tiket yang dijual kelas ekonomi, misalnya kereta Kertajaya dan Gaya Baru Malam jurusan Jakarta-Surabaya. Alasannya, tiket kelas itu kini paling langka.
Berbeda dengan Saipul, calo tiket lain. Dia memiliki semua jenis karcis kereta dari Senen. Tiket dia dapatkan sejak seminggu sebelum hari pemberangkatan. Caranya, memanfaatkan jasa para pengasong yang biasa mangkal di kawasan stasiun Senen, misalnya penjual kopi keliling dan pengecer koran. Mereka diminta memesan tiket lebih dulu dengan imbalan uang Rp 30 ribu.
Setelah tiket terkumpul, dia jual kepada para calon penumpang. Misalnya, harga tiket kereta ekonomi Progo jurusan Jakarta-Yogyakarta, yang resminya Rp 36 ribu, dia jual antara Rp 50 ribu hingga 80 ribu. Dia menegaskan prosedur ketat saat membeli tiket masih dapat diakali. "Itu hanya prosedural saja, tidak harus," kata Saiful.
Ternyata tidak semua orang menikmati pekerjaan menjadi calo, salah satunya Parmin. Kalau calo tidak jeli membaca situasi, kata dia, siap-siaplah digelandang intel polisi. Lelaki separuh abad ini sudah hampir lima tahun berkeliaran di stasiun Senen. Malam hari dia membungkusi nasi yang akan dijual istri dan baru beranjak menjadi calo pada siang hari.
Parmin mengaku mendapat tiket dari seorang anggota TNI. Entah benar atau tidak, ketika ditanya nama tentara itu, dia diam. Menurut dia, saban malam sudah ada orang menyiapkan segepok tiket kereta. Jumlahnya bisa ribuan lembar. Kemudian para calo di lapangan membeli tiket dengan sistem putus. Harganya beragam. misalnya kereta ekonomi Kertajaya, Gaya Baru Malam, dan Matarmaja antara Rp 75 hingga 85 ribu.
Tiket itu dijual kepada para calon penumpang dengan harga bervariasi pula, tergantung waktu penjualan. Misalnya, ketika siang karcis masih dijual mahal antara Rp 120 hingga 130 ribu. Namun sorenya dilepas Rp 100 ribu. Keuntungan menjual tiket ini ternyata besar. Dalam sehari, Parmin membeli 25 lembar karcis. Dari jumlah itu, rata-rata laku 23 lembar
Jika harga belinya rata-rata Rp 85 ribu, maka dengan harga jual Rp 130 ribu, Parmin bisa meraup untung hingga Rp 1 juta per hari."(Jadi calo) ini sampingan. Kerjanya lebih berat dari pada mencangkul, kalau tidak hati-hati, bisa ketangkap," kata pria ringkih yang mengaku dari Blitar, Jawa Timur, ini. Dia mengaku akan berhenti sebagai calo ketika cicilan renovasi tiga rumahnya lunas."Setelah itu konsentrasi jualan nasi bungkus saja," kata dia. (www.merdeka.com)
Benarkah Kereta Ekonomi Jarak Jauh Kian Nyaman???
Ronald Stuart Kain, penulis beken dari Amerika Serikat pernah menulis
cerita panjang tentang pengalamannya naik kereta ekonomi di Jawa, saat
melawat ke Indonesia pada 1947. Tulisannya berjudul: “Lawatan
Pascaperang Keliling Jawa”, itu pernah dimuat dalam majalah National
Geographic Indonesia edisi Agustus 2010. Dia bercerita tentang keindahan
alam yang ia nikmati dalam perjalanan dari Batavia (sekarang Jakarta)
ke Yogyakarta selama 14 jam.
Begini ia menulis, “Hari sudah gelap ketika kereta kami—setelah mendaki dataran tinggi pedalaman sepanjang sore—terengah-engah memasuki stasiun di Yogyakarta. Stasiun itu penuh hiruk-pikuk orang Indonesia berkeringat dan saling dorong, ratusan di antaranya turun dari gerbong penumpang dari kayu padat, sementara ratusan lainnya menuju stasiun selanjutnya berebut tempat untuk duduk atau berdiri.”
Sekarang, setelah 67 tahun Indonesia merdeka, perubahan apa anda rasakan, terutama pascakebijakan baru pembatasan penumpang kereta ekonomi diberlakukan pada 1 Oktober 2011? Apakah lebih baik atau justru makin buruk? Anda pernah menumpang kereta ekonomi jarak jauh, misalnya kereta Bangunkarta dan Gayabaru Malam jurusan Jakarta-Surabaya atau Kereta Progo jurusan Jakarta-Yogyakarta, bisa membandingkan kondisi pelayanan penumpang kereta sebelum dan sesudah kebijakan itu diterapkan.
Menurut Sumarlik, penumpang asal Babat, Lamongan, Jawa Timur, pembatasan penumpang memang ada bagusnya. Selain semakin teratur, kini kereta juga mulai nyaman. Berbeda dengan kondisi sebelum ada kebijakan pembatasan penumpang. Alih-alih bisa duduk nyaman, kadang berdiri pun tidak tenang.”Bagus sih bagi konsumen, lebih tertib dan teratur. Cuma, itu lho, penjual minuman masih banyak, yang tidak beli tiket kadang masih ada,” kata ibu dua anak ini ketika ditemui merdeka.com di Stasiun Pasar Senen, Ahad (25/3) pagi.
Dulu, sebelum kebijakan pembatasan, kondisi kereta ekonomi jarak jauh tak jauh berbeda seperti kondisi yang diceritakan oleh Stuart. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero masih menjual tiket penumpang duduk dan berdiri. Sebab itulah jumlah penumpang dalam satu kereta bisa melebihi kursi. Satu kereta mestinya diisi 150 orang, malah diisi 200 hingga 250 penumpang. Tak mengherankan jika banyak penumpang berdiri, tidur terlentang sambil menjulurkan kaki di lorong-lorong kursi. Belum lagi dihitung jumlah pengasong dan pengamen wara-wiri.
Surat Direksi PT KAI Nomor 104 pada 16 September 2011 telah mengubah citra kereta ekonomi. Surat yang didasarkan pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 9 tahun 2004 mengenai standar pelayanan minimal angkutan kereta dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 7 tahun 2009 tentang angkutan orang dengan kereta ekonomi itu baru direalisasikan dua pekan setelahnya. Kini, setelah enam bulan kebijakan berjalan, sudah ada perubahan pada pelayanan kereta. Saban penumpang mendapat jatah kursi. Pengasong dan pengamen juga dibatasi.
Selain Sumarlik, beberapa penumpang lain juga merasakan ada perbaikan pada pelayanan kereta. Seperti dirasakan Tomi, warga Surakarta dan Imron, warga Pasuruan, Jawa Timur. Keduanya naik kereta ekonomi. Cuma nama dan rute jurusan kereta berbeda. Tomi dua bulan sekali bolak-balik naik kereta Sawunggaling, sementara Imron dua kali sebulan naik kereta Kertajaya.
Menurut keduanya, akibat pembatasan penumpang itu, kini tiket sulit dicari. "Diborong calo, jadi terpaksa membeli dari mereka," kata Imron. Pengantin baru ini mengaku tidak pernah kebagian tiket meski sudah berusaha memesan sejak tujuh hari sebelum keberangkatan, sesuai pengumuman PT KAI. Begitu pula ketika perjalanan balik ke Jakarta dari Pasar Turi, Surabaya. Dia terpaksa membeli dari calo.
Kalau lagi mujur, dia mendapat harga Rp 70 ribu per tiket. Padahal resmin ya Rp 43 ribu. Tapi ketika sial, dia harus rela merogoh Rp 85 ribu hingga 100 ribu. Harga karcis calo di Surabaya malah lebih ngeri lagi, bisa Rp 150 ribu per tiket. Tentu saja ini memberatkan Imron yang cuma buruh dengan penghasilan Rp 1,5 juta per bulan.(www.merdeka.com)
Begini ia menulis, “Hari sudah gelap ketika kereta kami—setelah mendaki dataran tinggi pedalaman sepanjang sore—terengah-engah memasuki stasiun di Yogyakarta. Stasiun itu penuh hiruk-pikuk orang Indonesia berkeringat dan saling dorong, ratusan di antaranya turun dari gerbong penumpang dari kayu padat, sementara ratusan lainnya menuju stasiun selanjutnya berebut tempat untuk duduk atau berdiri.”
Sekarang, setelah 67 tahun Indonesia merdeka, perubahan apa anda rasakan, terutama pascakebijakan baru pembatasan penumpang kereta ekonomi diberlakukan pada 1 Oktober 2011? Apakah lebih baik atau justru makin buruk? Anda pernah menumpang kereta ekonomi jarak jauh, misalnya kereta Bangunkarta dan Gayabaru Malam jurusan Jakarta-Surabaya atau Kereta Progo jurusan Jakarta-Yogyakarta, bisa membandingkan kondisi pelayanan penumpang kereta sebelum dan sesudah kebijakan itu diterapkan.
Menurut Sumarlik, penumpang asal Babat, Lamongan, Jawa Timur, pembatasan penumpang memang ada bagusnya. Selain semakin teratur, kini kereta juga mulai nyaman. Berbeda dengan kondisi sebelum ada kebijakan pembatasan penumpang. Alih-alih bisa duduk nyaman, kadang berdiri pun tidak tenang.”Bagus sih bagi konsumen, lebih tertib dan teratur. Cuma, itu lho, penjual minuman masih banyak, yang tidak beli tiket kadang masih ada,” kata ibu dua anak ini ketika ditemui merdeka.com di Stasiun Pasar Senen, Ahad (25/3) pagi.
Dulu, sebelum kebijakan pembatasan, kondisi kereta ekonomi jarak jauh tak jauh berbeda seperti kondisi yang diceritakan oleh Stuart. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero masih menjual tiket penumpang duduk dan berdiri. Sebab itulah jumlah penumpang dalam satu kereta bisa melebihi kursi. Satu kereta mestinya diisi 150 orang, malah diisi 200 hingga 250 penumpang. Tak mengherankan jika banyak penumpang berdiri, tidur terlentang sambil menjulurkan kaki di lorong-lorong kursi. Belum lagi dihitung jumlah pengasong dan pengamen wara-wiri.
Surat Direksi PT KAI Nomor 104 pada 16 September 2011 telah mengubah citra kereta ekonomi. Surat yang didasarkan pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 9 tahun 2004 mengenai standar pelayanan minimal angkutan kereta dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 7 tahun 2009 tentang angkutan orang dengan kereta ekonomi itu baru direalisasikan dua pekan setelahnya. Kini, setelah enam bulan kebijakan berjalan, sudah ada perubahan pada pelayanan kereta. Saban penumpang mendapat jatah kursi. Pengasong dan pengamen juga dibatasi.
Selain Sumarlik, beberapa penumpang lain juga merasakan ada perbaikan pada pelayanan kereta. Seperti dirasakan Tomi, warga Surakarta dan Imron, warga Pasuruan, Jawa Timur. Keduanya naik kereta ekonomi. Cuma nama dan rute jurusan kereta berbeda. Tomi dua bulan sekali bolak-balik naik kereta Sawunggaling, sementara Imron dua kali sebulan naik kereta Kertajaya.
Menurut keduanya, akibat pembatasan penumpang itu, kini tiket sulit dicari. "Diborong calo, jadi terpaksa membeli dari mereka," kata Imron. Pengantin baru ini mengaku tidak pernah kebagian tiket meski sudah berusaha memesan sejak tujuh hari sebelum keberangkatan, sesuai pengumuman PT KAI. Begitu pula ketika perjalanan balik ke Jakarta dari Pasar Turi, Surabaya. Dia terpaksa membeli dari calo.
Kalau lagi mujur, dia mendapat harga Rp 70 ribu per tiket. Padahal resmin ya Rp 43 ribu. Tapi ketika sial, dia harus rela merogoh Rp 85 ribu hingga 100 ribu. Harga karcis calo di Surabaya malah lebih ngeri lagi, bisa Rp 150 ribu per tiket. Tentu saja ini memberatkan Imron yang cuma buruh dengan penghasilan Rp 1,5 juta per bulan.(www.merdeka.com)
Cemas Monas lemas
Sudah lebih sepertiga abad Monumen Nasional (Monas) berdiri. Tapi siapa
tahu, sampai kapan tugu raksasa itu kuat tegak? Menurut Anggota Tim Ahli
Cagar Budaya dan Tim Pemugaran Monumen Yuke Ardiati, hingga kini
pemerintah belum memiliki prosedur baku perawatan dan rehabilitasi
konstruksi bangunan tugu. Sebab, desain konstruksi bangunan asli serta
dokumen-dokumen penunjang, misalnya data hasil perbaikan monumen sejak
mulai dibangun pada 1961, belum ditemukan.
Karena itu hingga kini belum ada yang tahu kerusakan yang menjangkiti bangunan cagar budaya itu. Keropos atau masih kuat? Kenyataanya, Yuke melanjutkan, memang sulit mendeteksi sampai kapan bangunan itu mampu menopang badan tugu. ”Ibarat orang tua, kami sebagai dokter sulit mendeteksi sakit yang diderita Monas. Rekam medis kerusakannya tidak ada,” kata Yuke, kepada merdeka.com pertengahan bulan lalu.
Padahal untuk bangunan cagar budaya seusia monas, prosedur perawatan atau rehabilitasi bangunan harus ada. Prosedur itu bisa dibuat kalau dokumen-dokumen pembangunan ada. Misalnya, catatan-catatan perbaikan kerusakan atau rehabilitasi gedung; berapa kali direhabilitasi, komponen apa yang diubah dan bagaimana prosesnya. Dengan data itu, pemerintah bisa membuat diagnosa-diagnosa potensi kerusakan pada bangunan.
Ketika diagnosa selesai dibuat, berikutnya pembuatan rencana perawatan atau semacam prosedur dasar rehabilitasi berkala. ”Seperti proyek pembangunan gedung lain, pasti ada desain gambar konstruksi awal, lengkap dengan data-data perbaikan atau rehabilitasi bangunan. Minimal perawatan selama masa garansi,” ujar Yuke.
Begitu juga nama dan jenis komponen mekanis bangunan, seperti jenis besi dan kekuatan beton yang dipakai. Tapi hingga kini, dokumen-dokumen lengkap pembangunan Monas belum ditemukan. Yuke juga mengaku tidak tahu, sebenarnya ada atau tidak dokumen-dokumen itu. Masalah inilah yang menyulitkan pemerintah. Walhasil, belum ada satu ahli konstruksi yang bisa mendeteksi kerusakan pada Monas.
Meski secara kasat mata, lanjut Yuke, struktur bangunan monumen setinggi 132 meter ini masih kokoh, tapi bagaimana dengan kondisi komponen mekanis bangunan tugu, misalnya kondisi beton, angkur atau besi penyangga tugu. ”Karatan atau tidak, atau kondisinya seperti apa, tidak ada yang tahu,” dia menegaskan.
Veroni Sembiring, Kepala Seksi Pemeliharaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Monas, mengatakan selama ini UPT hanya memiliki desain samping bangunan. Namun ia mengakui jika desain itu hanya menjelaskan kondisi monumen secara umum, misalnya ukuran lebar dan tinggi pelataran, cawan monument, dan tugu. Selama ini perawatan juga hanya sebatas pembersihan dan pengecatan bangunan. Misalnya terowongan masuk, museum, pelataran, cawan dasar hingga tugu.
Veroni menjelaskan pemerintah awal tahun ini membentuk Tim Kajian Daya Dukung Struktur Tugu Monas. Tim ini akan mengkaji danmembersihkan badan tugu dengan menggandeng PT Kucher, perusahaan asal Jerman yang bergerak pada jasa pembersihan dan perawatan monumen nasional di seluruh dunia.
Pemerintah provinsi juga sudah membuat rencana kegiatan rehabilitasi untuk pelataran dan terowongan monumen. Yuke, yang juga anggota tim kajian langsung menimpali. “Rencana itu memang ada, tapi mana, perusahaan Jerman mengaku tidak bisa kok. Mereka pulang, jadi direhabilitasi atau tidak saya belum tahu.”
Selama ini, dia melanjutkan, rehabilitasi Monas baru sekali dilakukan pada 1995. Pemerintah saat itu menambah lapisan emas pada lidah api, dari berat awal 48 kilogram menjadi 50 kilo gram. Penambahan dilakukan karena kilau emas mulai luntur akibat cairan asam dari air hujan. Ketika ditanya kondisi Monas saat ini? Perempuan yang kini tengah menggarap disertasinya itu menjawab, “Banyak mengucap laa ilaaha illallah saja kalau mau naik ke puncak,” ucapnya terkekeh.
Monas mulai dibangun pada 1961 pada era pemerintahan Soekarno. Monumen itu resmi dibuka untuk umum pada 1975. Berdiri di tengah lapangan yang mengalami lima pergantian nama; mulai dari Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Monumen itu simbol kemerdekaan Indonesia setelah pemerintahan kembali ke Jakarta dari Yogyakarta pada 1950. Di puncak monumen, ada mahkota lidah api dari perunggu seberat 14,5 ton berlapis emas 50 kilogram.(www.merdeka.com)
Karena itu hingga kini belum ada yang tahu kerusakan yang menjangkiti bangunan cagar budaya itu. Keropos atau masih kuat? Kenyataanya, Yuke melanjutkan, memang sulit mendeteksi sampai kapan bangunan itu mampu menopang badan tugu. ”Ibarat orang tua, kami sebagai dokter sulit mendeteksi sakit yang diderita Monas. Rekam medis kerusakannya tidak ada,” kata Yuke, kepada merdeka.com pertengahan bulan lalu.
Padahal untuk bangunan cagar budaya seusia monas, prosedur perawatan atau rehabilitasi bangunan harus ada. Prosedur itu bisa dibuat kalau dokumen-dokumen pembangunan ada. Misalnya, catatan-catatan perbaikan kerusakan atau rehabilitasi gedung; berapa kali direhabilitasi, komponen apa yang diubah dan bagaimana prosesnya. Dengan data itu, pemerintah bisa membuat diagnosa-diagnosa potensi kerusakan pada bangunan.
Ketika diagnosa selesai dibuat, berikutnya pembuatan rencana perawatan atau semacam prosedur dasar rehabilitasi berkala. ”Seperti proyek pembangunan gedung lain, pasti ada desain gambar konstruksi awal, lengkap dengan data-data perbaikan atau rehabilitasi bangunan. Minimal perawatan selama masa garansi,” ujar Yuke.
Begitu juga nama dan jenis komponen mekanis bangunan, seperti jenis besi dan kekuatan beton yang dipakai. Tapi hingga kini, dokumen-dokumen lengkap pembangunan Monas belum ditemukan. Yuke juga mengaku tidak tahu, sebenarnya ada atau tidak dokumen-dokumen itu. Masalah inilah yang menyulitkan pemerintah. Walhasil, belum ada satu ahli konstruksi yang bisa mendeteksi kerusakan pada Monas.
Meski secara kasat mata, lanjut Yuke, struktur bangunan monumen setinggi 132 meter ini masih kokoh, tapi bagaimana dengan kondisi komponen mekanis bangunan tugu, misalnya kondisi beton, angkur atau besi penyangga tugu. ”Karatan atau tidak, atau kondisinya seperti apa, tidak ada yang tahu,” dia menegaskan.
Veroni Sembiring, Kepala Seksi Pemeliharaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Monas, mengatakan selama ini UPT hanya memiliki desain samping bangunan. Namun ia mengakui jika desain itu hanya menjelaskan kondisi monumen secara umum, misalnya ukuran lebar dan tinggi pelataran, cawan monument, dan tugu. Selama ini perawatan juga hanya sebatas pembersihan dan pengecatan bangunan. Misalnya terowongan masuk, museum, pelataran, cawan dasar hingga tugu.
Veroni menjelaskan pemerintah awal tahun ini membentuk Tim Kajian Daya Dukung Struktur Tugu Monas. Tim ini akan mengkaji danmembersihkan badan tugu dengan menggandeng PT Kucher, perusahaan asal Jerman yang bergerak pada jasa pembersihan dan perawatan monumen nasional di seluruh dunia.
Pemerintah provinsi juga sudah membuat rencana kegiatan rehabilitasi untuk pelataran dan terowongan monumen. Yuke, yang juga anggota tim kajian langsung menimpali. “Rencana itu memang ada, tapi mana, perusahaan Jerman mengaku tidak bisa kok. Mereka pulang, jadi direhabilitasi atau tidak saya belum tahu.”
Selama ini, dia melanjutkan, rehabilitasi Monas baru sekali dilakukan pada 1995. Pemerintah saat itu menambah lapisan emas pada lidah api, dari berat awal 48 kilogram menjadi 50 kilo gram. Penambahan dilakukan karena kilau emas mulai luntur akibat cairan asam dari air hujan. Ketika ditanya kondisi Monas saat ini? Perempuan yang kini tengah menggarap disertasinya itu menjawab, “Banyak mengucap laa ilaaha illallah saja kalau mau naik ke puncak,” ucapnya terkekeh.
Monas mulai dibangun pada 1961 pada era pemerintahan Soekarno. Monumen itu resmi dibuka untuk umum pada 1975. Berdiri di tengah lapangan yang mengalami lima pergantian nama; mulai dari Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Monumen itu simbol kemerdekaan Indonesia setelah pemerintahan kembali ke Jakarta dari Yogyakarta pada 1950. Di puncak monumen, ada mahkota lidah api dari perunggu seberat 14,5 ton berlapis emas 50 kilogram.(www.merdeka.com)
Soekarno dan Monas
Republik Indonesia saat itu baru berumur 34 hari ketika ribuan orang
tumpah di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Indonesia), menghadiri rapat
akbar peringatan sebulan proklamasi kemerdekaan. Presiden Soekarno dan
Wakil Presiden Mohamad Hatta memimpin langsung rapat raksasa pada Rabu
sore, 19 September 1945 itu. Rapat digelar guna menghimpun kekuatan
rakyat mengusir penjajah yang akan kembali merebut kekuasaan pemerintah
dari Jepang.
Enam belas tahun kemudian, di tengah lapangan yang sama, IKADA - kemudian berganti nama menjadi Medan Merdeka - Soekarno mendirikan monumen raksasa sebagai lambang keperkasaan rakyat Indonesia. Tugu setinggi 132 meter itu mulai dibangun tepat pada 17 Agustus 1961. ”Yang saya tahu, ide awalnya memang dari Soekarno,” ujar sejarawan Anhar Gonggong kepada merdeka.com bulan lalu.
Menurut dia, beberapa buku hanya bercerita tentang peran Soekarno dalam pembangunan monumen itu. Soal nama-nama lain, dia mengaku mendengar Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno yang membantu pembangunan tugu. Selebihnya dia mengaku tidak tahu, termasuk tentang rancang bangun atau desain konstruksi awal pembangunan Monas.
Namun menurut Nursamin, bagian Informasi Unit Pelaksana Tugas (UPT) Pengelola Monas, sumber sejarah pembangunan Monas masih simpang-siur. Ada yang bilang gagasan awal dari Presiden Soekarno, pendapat lain mengatakan idenya dari Sarwoko Martokusumo, Ketua Panitia Tim Pelaksana Pembangunan Monumen Nasional. ”Ada yang bilang Soekarno itu cuma pemrakarsa saja, karena dia seorang presiden,” kata dia.
Setelah melongok runtutan catatan sejarah monas, dulu, sebelum pembangunan, panitia sempat menggelar sayembara terbuka untuk arsitek-arsitek Indonesia, baik secara kolektif atau individu, dibuka 17 Februari 1955 dan ditutup Mei 1956. Hasilnya, 51 peserta menyodorkan gambar rancang bangun tugu. Dari jumlah itu, satu peserta yang terpilih adalah Frederich Silaban. Namun dia tidak mampu memenuhi syarat pembentukan tugu.
Berikutnya sayembara ulangan dibuka sesuai Keputusan Presiden RI (Keppres) No. 33/1960 dengan . Presiden Soekarno ketua juri. Lomba dibuka 10 Mei hingga 15 Oktober 1960. Berdasar Keppres, bentuk tugu hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia, karya budaya yang menimbulkan semangat patriotik, tiga dimensi, tidak rata, menjulang tinggi, terbuat dari beton, besi, dan batu pualam, serta bisa tahan seribu tahun.
Sayembara ulang itu diikuti 222 peserta dengan 136 rancangan bangunan. Sayang, bagi Soekarno, rancangan-rancangan itu belum bisa memenuhi kriteria yang ditetapkan panitia. Dia kemudian meminta Silaban menunjukkan desain tugu yang pernah dia sorongkan. Namun lagi-lagi Sukarno tidak menyukai desain itu. Alasannya, rancangan itu tidak sesuai visi sang presiden. Hingga akhirnya rancangan Silaban diambil alih oleh RM Soedarsono lantas dimodifikasi. .
Setelah rancangan diperbaiki, Soekarno akhirnya setuju. Maka pada 17 Agustus 1961 pemancangan tiang pertama dimulai. Pembangunan tahap kedua baru dikerjakan sewindu kemudian seusai Keppres No. 314 tahun 1968, dan selesai pada 1975. Panitia pembangunan saat itu diketuai menteri pendidikan dan kebudayaan. Ketika berpidato pada acara pemberian hadiah pemenang sayembara, Soekarno mengakui sungguh sulit mencari bentuk tugu.
”Ja, memang apa jang kita hadapi dalam sajembara ini adalah satu tugas jang amat sukar dan djangan mengira bahwa kesukaran ini dirasakan oleh peserta-peserta sajembara sadja, tetapi kami anggota djuri pun menggalami kesukaran-kesukaran. Memang, apa jang dikehendaki oleh Panitia Monumen Nasional--dan hal jang dikehendaki itupun telah memantjar ke dalam tubuh para juri--,adalah satu hal jang amat sukar.”
Soedarsono saat itu sebagai direksi pelaksana dan Rooseno menjadi pengawas dalam konstruksi beton bertulang. Sedangkan perusahaan negara Adhi Karya sebagai pelaksana utama atas dasar upah ditambah jasa. Umar Wirahadikusuma berwenang atas kekuasaan daerah, koordinasi, logistik, dan perjanjian kerja dengan kontraktor.(www.merdeka.com)
Enam belas tahun kemudian, di tengah lapangan yang sama, IKADA - kemudian berganti nama menjadi Medan Merdeka - Soekarno mendirikan monumen raksasa sebagai lambang keperkasaan rakyat Indonesia. Tugu setinggi 132 meter itu mulai dibangun tepat pada 17 Agustus 1961. ”Yang saya tahu, ide awalnya memang dari Soekarno,” ujar sejarawan Anhar Gonggong kepada merdeka.com bulan lalu.
Menurut dia, beberapa buku hanya bercerita tentang peran Soekarno dalam pembangunan monumen itu. Soal nama-nama lain, dia mengaku mendengar Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno yang membantu pembangunan tugu. Selebihnya dia mengaku tidak tahu, termasuk tentang rancang bangun atau desain konstruksi awal pembangunan Monas.
Namun menurut Nursamin, bagian Informasi Unit Pelaksana Tugas (UPT) Pengelola Monas, sumber sejarah pembangunan Monas masih simpang-siur. Ada yang bilang gagasan awal dari Presiden Soekarno, pendapat lain mengatakan idenya dari Sarwoko Martokusumo, Ketua Panitia Tim Pelaksana Pembangunan Monumen Nasional. ”Ada yang bilang Soekarno itu cuma pemrakarsa saja, karena dia seorang presiden,” kata dia.
Setelah melongok runtutan catatan sejarah monas, dulu, sebelum pembangunan, panitia sempat menggelar sayembara terbuka untuk arsitek-arsitek Indonesia, baik secara kolektif atau individu, dibuka 17 Februari 1955 dan ditutup Mei 1956. Hasilnya, 51 peserta menyodorkan gambar rancang bangun tugu. Dari jumlah itu, satu peserta yang terpilih adalah Frederich Silaban. Namun dia tidak mampu memenuhi syarat pembentukan tugu.
Berikutnya sayembara ulangan dibuka sesuai Keputusan Presiden RI (Keppres) No. 33/1960 dengan . Presiden Soekarno ketua juri. Lomba dibuka 10 Mei hingga 15 Oktober 1960. Berdasar Keppres, bentuk tugu hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia, karya budaya yang menimbulkan semangat patriotik, tiga dimensi, tidak rata, menjulang tinggi, terbuat dari beton, besi, dan batu pualam, serta bisa tahan seribu tahun.
Sayembara ulang itu diikuti 222 peserta dengan 136 rancangan bangunan. Sayang, bagi Soekarno, rancangan-rancangan itu belum bisa memenuhi kriteria yang ditetapkan panitia. Dia kemudian meminta Silaban menunjukkan desain tugu yang pernah dia sorongkan. Namun lagi-lagi Sukarno tidak menyukai desain itu. Alasannya, rancangan itu tidak sesuai visi sang presiden. Hingga akhirnya rancangan Silaban diambil alih oleh RM Soedarsono lantas dimodifikasi. .
Setelah rancangan diperbaiki, Soekarno akhirnya setuju. Maka pada 17 Agustus 1961 pemancangan tiang pertama dimulai. Pembangunan tahap kedua baru dikerjakan sewindu kemudian seusai Keppres No. 314 tahun 1968, dan selesai pada 1975. Panitia pembangunan saat itu diketuai menteri pendidikan dan kebudayaan. Ketika berpidato pada acara pemberian hadiah pemenang sayembara, Soekarno mengakui sungguh sulit mencari bentuk tugu.
”Ja, memang apa jang kita hadapi dalam sajembara ini adalah satu tugas jang amat sukar dan djangan mengira bahwa kesukaran ini dirasakan oleh peserta-peserta sajembara sadja, tetapi kami anggota djuri pun menggalami kesukaran-kesukaran. Memang, apa jang dikehendaki oleh Panitia Monumen Nasional--dan hal jang dikehendaki itupun telah memantjar ke dalam tubuh para juri--,adalah satu hal jang amat sukar.”
Soedarsono saat itu sebagai direksi pelaksana dan Rooseno menjadi pengawas dalam konstruksi beton bertulang. Sedangkan perusahaan negara Adhi Karya sebagai pelaksana utama atas dasar upah ditambah jasa. Umar Wirahadikusuma berwenang atas kekuasaan daerah, koordinasi, logistik, dan perjanjian kerja dengan kontraktor.(www.merdeka.com)
Menerka emas Markam
Furqon Ramadhan menggeleng ketika mendengar nama Teuku Markam. Mahasiswa
semester dua di Universitas Indraprasta, Jakarta, itu memicingkan mata,
mempertanyakan kesahihan cerita, bahwa Teuku Markam itu saudagar kaya
asal Aceh yang menyumbang 28 kilogram emas buat Monas. ”Soekarno saya
tahu, kalau Markam, saya baru dengar,” kata dia kepada merdeka.com di museum diorama perjuangan kemerdekaan Monumen Nasional (Monas), pertengahan bulan lalu.
Nama Teuku Markam memang seperti lenyap dalam sejarah pembangunan Monas. Annisa, pengunjung lainya berkata, sejak duduk di sekolah dasar hingga mahasiswa, belum pernah ada guru atau dosen bercerita tentang Markam. Bahkan Nursamin, bagian Informasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Monas, pun mengaku tak tahu Markam adalah saudagar kaya penyumbang emas itu.
Menurut dia, ada banyak versi sejarah pembangunan monumen yang menjadi ikon Ibu Kota Jakarta ini. Setahu dia, dalam sejarah, nama Soekarno paling populer sebagai pemrakarsa pembangunan. Ide dasarnya dari Sarwoko Martokusumo. Ada pendapat berbeda, gagasan pembangunan Monas juga dari Soekarno. ”Tapi kalau nama Markam saya tidak tahu,” ujarnya.
Anhar Gonggong, sejarawan dari Universitas Indonesia, mengaku tidak tahu soal kebenaran bahwa Markam adalah saudagar kaya yang menyumbang emas buat Monas. Namun demikian, berdasar cerita sejarah, ia membenarkan jika Markam dekat dengan Soekarno. Bersama dua saudagar kaya lain, Aslam dan Panggabean, mereka orang-orang kaya pada masa pemerintahan presiden pertama itu.
Tapi setelah Soekarno lengser dan pemerintahan berganti kepada rezim Soeharto, orang-orang kaya itu ada yang bertahan, ada juga yang namanya tenggelam. Markam, termasuk orang kaya yang disisihkan. ”Pada rezim Orde Baru, harta Markam dirampas oleh Soeharto.” tuturnya. Namun dia enggan bercerita penyebabnya.”Jujur, saya kurang paham kalau soal Monas ini dan Markam ini.”
Yuke Ardiati, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya dan Tim Pemugaran Monumen, mengaku pernah membaca cerita tentang Markam yang menyumbang emas untuk Monas di Internet. Dia juga sempat mendengar dari beberapa orang. Namun hingga kini dia belum mendapatkan bukti-bukti yang membenarkan cerita itu. Belum ada saksi mata proses penyerahan emas dan bukti kuitansi. ”Andai benar, ada atau tidak saksi mata peleburan emas sampai proses pelapisan pada lidah api, jangan-jangan emasnya tidak dipakai?” ujarnya.
Merdeka.com yang menelusuri jejak keluarga Markam tidak mendapat banyak informasi. Dimulai dari rumah kediaman Teuku Syauki Markam, salah satu putra saudagar Aceh itu, di Jalan Bhakti Nomor 48, Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu. Rumah tembok itu berdiri di halaman bekas pabrik PT Markam Jaya. Indah Yuliarti, bini dari Syauki, menolak menjelaskan soal Markam dan Monas.”Silakan tanya bapak saja, itu sejarah masa lalu. Saya tidak bisa, takut salah,” kata dia.
Dia lantas menunjukkan alamat kantor suaminya di kompleks rumah toko (ruko) PT Superindo, Jalan Hayam Wuruk nomor 103 H, Jakarta Pusat. Salah satu ruko tua; cat putihya memudar menjadi kekuning-kuningan, itu adalah kantor pemasaran tempat Syauki Markam bekerja selama satu dasawarsa. Ruang kantor yang disekat-sekat dengan triplek ini berada di lantai dua. Lantai dasar digunakan sebagai kantor notaris.
Sofa hitam khusus tamu dibiarkan berdebu. Menurut sekretarisnya, Mungkiatun, perusahaan Syauki bergerak pada bidang penyewaan gedung kantor dan gudang. Di situlah klien-klien bosnya datang. Sayang, Syauki tidak bisa ditemui. Mungki mengatakan, bosnya sedang pergi ke luar kota. Dia tidak bisa memastikan kapan si bos kembali.“Kadang tidur di kantor, kadang tidur di hotel,” kata dia.
Mungki mengaku hafal betul perilaku bosnya yang tidak pernah bisa dihubungi itu. Dia lantas memberi dua nomor telepon kepada merdeka.com. Benar saja, hingga berita ini diturunkan, beberapa kali nomor Syauki dihubungi tidak diangkat. Begitu juga pesan pendek minta wawancara tidak dibalas.”Bapak tidak pernah bisa dihubungi. Kalau ada yang penting, biasanya dia menelepon ke kantor,” kata Mungki. (www.merdeka.com)
Nama Teuku Markam memang seperti lenyap dalam sejarah pembangunan Monas. Annisa, pengunjung lainya berkata, sejak duduk di sekolah dasar hingga mahasiswa, belum pernah ada guru atau dosen bercerita tentang Markam. Bahkan Nursamin, bagian Informasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Monas, pun mengaku tak tahu Markam adalah saudagar kaya penyumbang emas itu.
Menurut dia, ada banyak versi sejarah pembangunan monumen yang menjadi ikon Ibu Kota Jakarta ini. Setahu dia, dalam sejarah, nama Soekarno paling populer sebagai pemrakarsa pembangunan. Ide dasarnya dari Sarwoko Martokusumo. Ada pendapat berbeda, gagasan pembangunan Monas juga dari Soekarno. ”Tapi kalau nama Markam saya tidak tahu,” ujarnya.
Anhar Gonggong, sejarawan dari Universitas Indonesia, mengaku tidak tahu soal kebenaran bahwa Markam adalah saudagar kaya yang menyumbang emas buat Monas. Namun demikian, berdasar cerita sejarah, ia membenarkan jika Markam dekat dengan Soekarno. Bersama dua saudagar kaya lain, Aslam dan Panggabean, mereka orang-orang kaya pada masa pemerintahan presiden pertama itu.
Tapi setelah Soekarno lengser dan pemerintahan berganti kepada rezim Soeharto, orang-orang kaya itu ada yang bertahan, ada juga yang namanya tenggelam. Markam, termasuk orang kaya yang disisihkan. ”Pada rezim Orde Baru, harta Markam dirampas oleh Soeharto.” tuturnya. Namun dia enggan bercerita penyebabnya.”Jujur, saya kurang paham kalau soal Monas ini dan Markam ini.”
Yuke Ardiati, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya dan Tim Pemugaran Monumen, mengaku pernah membaca cerita tentang Markam yang menyumbang emas untuk Monas di Internet. Dia juga sempat mendengar dari beberapa orang. Namun hingga kini dia belum mendapatkan bukti-bukti yang membenarkan cerita itu. Belum ada saksi mata proses penyerahan emas dan bukti kuitansi. ”Andai benar, ada atau tidak saksi mata peleburan emas sampai proses pelapisan pada lidah api, jangan-jangan emasnya tidak dipakai?” ujarnya.
Merdeka.com yang menelusuri jejak keluarga Markam tidak mendapat banyak informasi. Dimulai dari rumah kediaman Teuku Syauki Markam, salah satu putra saudagar Aceh itu, di Jalan Bhakti Nomor 48, Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu. Rumah tembok itu berdiri di halaman bekas pabrik PT Markam Jaya. Indah Yuliarti, bini dari Syauki, menolak menjelaskan soal Markam dan Monas.”Silakan tanya bapak saja, itu sejarah masa lalu. Saya tidak bisa, takut salah,” kata dia.
Dia lantas menunjukkan alamat kantor suaminya di kompleks rumah toko (ruko) PT Superindo, Jalan Hayam Wuruk nomor 103 H, Jakarta Pusat. Salah satu ruko tua; cat putihya memudar menjadi kekuning-kuningan, itu adalah kantor pemasaran tempat Syauki Markam bekerja selama satu dasawarsa. Ruang kantor yang disekat-sekat dengan triplek ini berada di lantai dua. Lantai dasar digunakan sebagai kantor notaris.
Sofa hitam khusus tamu dibiarkan berdebu. Menurut sekretarisnya, Mungkiatun, perusahaan Syauki bergerak pada bidang penyewaan gedung kantor dan gudang. Di situlah klien-klien bosnya datang. Sayang, Syauki tidak bisa ditemui. Mungki mengatakan, bosnya sedang pergi ke luar kota. Dia tidak bisa memastikan kapan si bos kembali.“Kadang tidur di kantor, kadang tidur di hotel,” kata dia.
Mungki mengaku hafal betul perilaku bosnya yang tidak pernah bisa dihubungi itu. Dia lantas memberi dua nomor telepon kepada merdeka.com. Benar saja, hingga berita ini diturunkan, beberapa kali nomor Syauki dihubungi tidak diangkat. Begitu juga pesan pendek minta wawancara tidak dibalas.”Bapak tidak pernah bisa dihubungi. Kalau ada yang penting, biasanya dia menelepon ke kantor,” kata Mungki. (www.merdeka.com)
Merekam jejak keluarga Markam
Siang itu matahari serasa sejengkal dari kepala ketika seekor kerbau
betina mengaso di samping pintu belakang rumah Teuku Syauki Markam.
Kerbau itu milik Syauki, salah satu anak dari saudagar kaya asal Aceh,
Teuku Markam, yang konon termasuk orang terkaya di Indonesia pada era
Soekarno. Dari luar, sepintas rumah Syauki seperti tanpa penghuni.
Lengang. Pintu depan dan belakang rumah tembok bercat putih yang
sebagian warnanya berubah kecoklatan itu terkunci.
Bau tengik dari kubangan lumpur bercampur tahi kerbau yang jaraknya kira-kira sedepa dari sekat tembok belakang rumah Syauki menyengat hidung. Setelah beberapa kali merdeka.com mengetuk pintu belakang rumah, Indah Yuliarti, bini Syauki, akhirnya membuka pintu. Tapi saat ditanya soal sejarah keluarga Markam, dia menolak bicara. ”Silakan tanya bapak saja,” kata dia saat ditemui di rumahnya itu, Jalan Bhakti nomor 48, Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, bulan lalu.
Besoknya, tempat kerbau itu berubah menjadi tempat parkir mobil Volvo hitam buatan Swedia. Menurut Anton, warga sekitar, mobil itu biasa dikendarai Syauki. Namun saat pintu rumah diketuk, justru Putri, anak ketiga Syauki, yang muncul. Putri mengatakan bapaknya tidak ada di rumah. Saat merdeka.com bertanya soal sejarah Markam, dia memberi penuturan mirip ibunya. ”Silakan tanya bapak saja. Nanti saya salah bicara, bapak bisa marah-marah.”
Tapi dari Putri ada sedikit cerita. Menurut dia, sudah belasan tahun keluarga Markam berpencar ke mana-mana, ada yang tinggal di Aceh, beberapa lagi di Jakarta. Kakeknya, Markam, memang memiliki lebih dari dua istri. Syauki adalah anak dari salah satu bini tua Markam. Menurut perempuan dengan kawat gigi itu, bapaknya memiliki empat saudara kandung. ”Tapi rumah mereka di mana saya tidak tahu, mereka seperti trauma, susah diajak bicara,” ujarnya.
Syauki tidak berhasil ditemui di rumah dan kantornya, komplek rumah toko (ruko) Superindo, di Jalan Hayam Wuruk nomor 103H, Jakarta Pusat. Mungkiatun, pegawai kantor, mengatakan bosnya sedang ke luar kota. Ketika dua nomor telepon milik Syauki dihubungi, tidak ada jawaban. Menurut Mungki hal itu sudah biasa. Syauki, dia menambahkan, selama ini tidak pernah mau mengangkat telepon dari siapapun, kecuali keluarga dan kantor.
Begitu juga dengan kiriman pesan pendek permintaan wawancara, Syauki tetap tidak membalas. Tapi Mungki sempat bercerita ihwal perjuangan keluarga Markam merebut harta keluarga. Syauki, kata dia, sempat dua kali masuk penjara lantaran sengketa kepemilikan lahan dan perusahaan. Pertama, dia ditahan lantaran terbelit kasus jual beli lahan.
”Yang kedua dia dipenjara lagi karena membacok kepala seorang preman gara-gara sengketa lahan,” tuturnya. Hal itu dibenarkan Ambarwati, pegawai lain. Dia menyarankan, kalau menemui Syauki hendaknya malam hari, atau lebih dulu membuat janji. Kalau tidak begitu, bosnya sangat sulit ditemui.
Mungki kemudian menghubungkan merdeka.com dengan Cut Martaleta, adik tiri Syauki, yang kebetulan menginap di sebuah wisma tepat di depan kantor. Martaleta adalah anak Markam dari bini yang lain. Namun ketika ditemui, Martaleta juga menolak wawancara. ”Maaf tidak bisa, saya sedang sakit," kata dia.
Akhirnya, melalui pertanyaan singkat lewat pesan pendek, Martaleta bersedia menjawab. Isinya begini: saya minta disediakan uang Rp 30 juta karena saya jujur dengan Anda, keadaan saya sangat-sangat di bawah standar. Saya minta uang ditransfer di muka, setelah itu kita adakan pertemuan di rumah kakak saya, yang juga ahli waris Haji Teuku Markam.
Jejak kejayaan Markam memang masih ada. Rumah Syauki di Jalan Bhakti, Cilandak Timur, itu misalnya, berdiri di pojok halaman depan gudang PT Markam Jaya, sebuah perusahaan kontraktor milik Markam pada era Presiden Soekarno. Konon, Teuku Markam merupakan salah satu saudagar Aceh yang sukses di masanya. Dia sempat membangun infrastruktur di Aceh, termasuk jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, dan Tapaktuan.
Markam juga disebut-sebut memiliki sejumlah dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, dan Palembang. Dia tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor pelat baja, besi beton sampai senjata untuk militer. Orang kaya ini juga disebut-sebut menyumbangkan 28 kilogram emasnya buat pembangunan tugu Monas.
Peran Markam mulai hancur dan runtuh ketika kekuasaan Soeharto semakin besar. Ia pernah ditahan delapan tahun dengan tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Harta kekayaannya dirampas. Dia mencoba bangkit setelah keluar dari penjara, tapi tidak bertahan lama. Pengambilalihan harta Markam ini dibenarkan oleh sejarawan Anhar Gonggong. ”Salah satunya Bank Duta milik Soeharto dulu kemungkinan asetnya Markam.” (www.merdeka.com)
Bau tengik dari kubangan lumpur bercampur tahi kerbau yang jaraknya kira-kira sedepa dari sekat tembok belakang rumah Syauki menyengat hidung. Setelah beberapa kali merdeka.com mengetuk pintu belakang rumah, Indah Yuliarti, bini Syauki, akhirnya membuka pintu. Tapi saat ditanya soal sejarah keluarga Markam, dia menolak bicara. ”Silakan tanya bapak saja,” kata dia saat ditemui di rumahnya itu, Jalan Bhakti nomor 48, Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, bulan lalu.
Besoknya, tempat kerbau itu berubah menjadi tempat parkir mobil Volvo hitam buatan Swedia. Menurut Anton, warga sekitar, mobil itu biasa dikendarai Syauki. Namun saat pintu rumah diketuk, justru Putri, anak ketiga Syauki, yang muncul. Putri mengatakan bapaknya tidak ada di rumah. Saat merdeka.com bertanya soal sejarah Markam, dia memberi penuturan mirip ibunya. ”Silakan tanya bapak saja. Nanti saya salah bicara, bapak bisa marah-marah.”
Tapi dari Putri ada sedikit cerita. Menurut dia, sudah belasan tahun keluarga Markam berpencar ke mana-mana, ada yang tinggal di Aceh, beberapa lagi di Jakarta. Kakeknya, Markam, memang memiliki lebih dari dua istri. Syauki adalah anak dari salah satu bini tua Markam. Menurut perempuan dengan kawat gigi itu, bapaknya memiliki empat saudara kandung. ”Tapi rumah mereka di mana saya tidak tahu, mereka seperti trauma, susah diajak bicara,” ujarnya.
Syauki tidak berhasil ditemui di rumah dan kantornya, komplek rumah toko (ruko) Superindo, di Jalan Hayam Wuruk nomor 103H, Jakarta Pusat. Mungkiatun, pegawai kantor, mengatakan bosnya sedang ke luar kota. Ketika dua nomor telepon milik Syauki dihubungi, tidak ada jawaban. Menurut Mungki hal itu sudah biasa. Syauki, dia menambahkan, selama ini tidak pernah mau mengangkat telepon dari siapapun, kecuali keluarga dan kantor.
Begitu juga dengan kiriman pesan pendek permintaan wawancara, Syauki tetap tidak membalas. Tapi Mungki sempat bercerita ihwal perjuangan keluarga Markam merebut harta keluarga. Syauki, kata dia, sempat dua kali masuk penjara lantaran sengketa kepemilikan lahan dan perusahaan. Pertama, dia ditahan lantaran terbelit kasus jual beli lahan.
”Yang kedua dia dipenjara lagi karena membacok kepala seorang preman gara-gara sengketa lahan,” tuturnya. Hal itu dibenarkan Ambarwati, pegawai lain. Dia menyarankan, kalau menemui Syauki hendaknya malam hari, atau lebih dulu membuat janji. Kalau tidak begitu, bosnya sangat sulit ditemui.
Mungki kemudian menghubungkan merdeka.com dengan Cut Martaleta, adik tiri Syauki, yang kebetulan menginap di sebuah wisma tepat di depan kantor. Martaleta adalah anak Markam dari bini yang lain. Namun ketika ditemui, Martaleta juga menolak wawancara. ”Maaf tidak bisa, saya sedang sakit," kata dia.
Akhirnya, melalui pertanyaan singkat lewat pesan pendek, Martaleta bersedia menjawab. Isinya begini: saya minta disediakan uang Rp 30 juta karena saya jujur dengan Anda, keadaan saya sangat-sangat di bawah standar. Saya minta uang ditransfer di muka, setelah itu kita adakan pertemuan di rumah kakak saya, yang juga ahli waris Haji Teuku Markam.
Jejak kejayaan Markam memang masih ada. Rumah Syauki di Jalan Bhakti, Cilandak Timur, itu misalnya, berdiri di pojok halaman depan gudang PT Markam Jaya, sebuah perusahaan kontraktor milik Markam pada era Presiden Soekarno. Konon, Teuku Markam merupakan salah satu saudagar Aceh yang sukses di masanya. Dia sempat membangun infrastruktur di Aceh, termasuk jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, dan Tapaktuan.
Markam juga disebut-sebut memiliki sejumlah dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, dan Palembang. Dia tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor pelat baja, besi beton sampai senjata untuk militer. Orang kaya ini juga disebut-sebut menyumbangkan 28 kilogram emasnya buat pembangunan tugu Monas.
Peran Markam mulai hancur dan runtuh ketika kekuasaan Soeharto semakin besar. Ia pernah ditahan delapan tahun dengan tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Harta kekayaannya dirampas. Dia mencoba bangkit setelah keluar dari penjara, tapi tidak bertahan lama. Pengambilalihan harta Markam ini dibenarkan oleh sejarawan Anhar Gonggong. ”Salah satunya Bank Duta milik Soeharto dulu kemungkinan asetnya Markam.” (www.merdeka.com)
Langganan:
Postingan (Atom)












