Senin, 09 April 2012

Siasat calo menjual tiket

Gaya bicara mereka kasak-kusuk. Mereka membaur, berserak di mana-mana; berdiri di parkiran motor dan mobil, atau sekadar duduk di warung-warung, hingga ikut antre di muka loket penjualan tiket kereta di stasiun-stasiun. Menyusuri celah-celah antrean para calon penumpang kereta, lalu menawarkan tiket gelap kepada para calon penumpang adalah pekerjaan mereka, para calo tiket kereta.

"Rokok, bang?" kata Samsudin menyapa seorang lelaki di sebelahnya. Bicaranya berbisik-bisik kepada merdeka.com, Ahad (25/3). "Sudah dapat tiket? kalau belum, saya ada dari satpam depan. Harganya seratus ribu, bagaimana?" Samsudin adalah satu dari puluhan, atau mungkin ratusan calo karcis kereta. Mereka mempunyai banyak trik buat memulung untung tanpa harus buntung. Misalnya, menawari kopi, mengajak ngobrol, berkenalan, hingga sekadar menawari rokok dan kemudian tiket.

Samsudin, pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, ini mengaku memiliki jaringan petugas satpam jaga pintu masuk peron di beberapa stasiun di Jakarta, misalnya Tanah Abang dan Pasar Senen. Tiket dia beli Rp 95 ribu kemudian dijual Rp 100 ribu. Kebanyakan tiket yang dijual kelas ekonomi, misalnya kereta Kertajaya dan Gaya Baru Malam jurusan Jakarta-Surabaya. Alasannya, tiket kelas itu kini paling langka.

Berbeda dengan Saipul, calo tiket lain. Dia memiliki semua jenis karcis kereta dari Senen. Tiket dia dapatkan sejak seminggu sebelum hari pemberangkatan. Caranya, memanfaatkan jasa para pengasong yang biasa mangkal di kawasan stasiun Senen, misalnya penjual kopi keliling dan pengecer koran. Mereka diminta memesan tiket lebih dulu dengan imbalan uang Rp 30 ribu.

Setelah tiket terkumpul, dia jual kepada para calon penumpang. Misalnya, harga tiket kereta ekonomi Progo jurusan Jakarta-Yogyakarta, yang resminya Rp 36 ribu, dia jual antara Rp 50 ribu hingga 80 ribu. Dia menegaskan prosedur ketat saat membeli tiket masih dapat diakali. "Itu hanya prosedural saja, tidak harus," kata Saiful.

Ternyata tidak semua orang menikmati pekerjaan menjadi calo, salah satunya Parmin. Kalau calo tidak jeli membaca situasi, kata dia, siap-siaplah digelandang intel polisi. Lelaki separuh abad ini sudah hampir lima tahun berkeliaran di stasiun Senen. Malam hari dia membungkusi nasi yang akan dijual istri dan baru beranjak menjadi calo pada siang hari.

Parmin mengaku mendapat tiket dari seorang anggota TNI. Entah benar atau tidak, ketika ditanya nama tentara itu, dia diam. Menurut dia, saban malam sudah ada orang menyiapkan segepok tiket kereta. Jumlahnya bisa ribuan lembar. Kemudian para calo di lapangan membeli tiket dengan sistem putus. Harganya beragam. misalnya kereta ekonomi Kertajaya, Gaya Baru Malam, dan Matarmaja antara Rp 75 hingga 85 ribu.

Tiket itu dijual kepada para calon penumpang dengan harga bervariasi pula, tergantung waktu penjualan. Misalnya, ketika siang karcis masih dijual mahal antara Rp 120 hingga 130 ribu. Namun sorenya dilepas Rp 100 ribu. Keuntungan menjual tiket ini ternyata besar. Dalam sehari, Parmin membeli 25 lembar karcis. Dari jumlah itu, rata-rata laku 23 lembar

Jika harga belinya rata-rata Rp 85 ribu, maka dengan harga jual Rp 130 ribu, Parmin bisa meraup untung hingga Rp 1 juta per hari."(Jadi calo) ini sampingan. Kerjanya lebih berat dari pada mencangkul, kalau tidak hati-hati, bisa ketangkap," kata pria ringkih yang mengaku dari Blitar, Jawa Timur, ini. Dia mengaku akan berhenti sebagai calo  ketika cicilan renovasi tiga rumahnya lunas."Setelah itu konsentrasi jualan nasi bungkus saja," kata dia. (www.merdeka.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar