Senin, 09 April 2012

Benarkah Kereta Ekonomi Jarak Jauh Kian Nyaman???

Ronald Stuart Kain, penulis beken dari Amerika Serikat pernah menulis cerita panjang tentang pengalamannya naik kereta ekonomi di Jawa, saat melawat ke Indonesia pada 1947. Tulisannya berjudul: “Lawatan Pascaperang Keliling Jawa”, itu pernah dimuat dalam majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2010. Dia bercerita tentang keindahan alam yang ia nikmati dalam perjalanan dari Batavia (sekarang Jakarta) ke Yogyakarta selama 14 jam.

Begini ia menulis, “Hari sudah gelap ketika kereta kami—setelah mendaki dataran tinggi pedalaman sepanjang sore—terengah-engah memasuki stasiun di Yogyakarta. Stasiun itu penuh hiruk-pikuk orang Indonesia berkeringat dan saling dorong, ratusan di antaranya turun dari gerbong penumpang dari kayu padat, sementara ratusan lainnya menuju stasiun selanjutnya berebut tempat untuk duduk atau berdiri.”

Sekarang, setelah 67 tahun Indonesia merdeka, perubahan apa anda rasakan, terutama pascakebijakan baru pembatasan penumpang kereta ekonomi diberlakukan pada 1 Oktober 2011? Apakah lebih baik atau justru makin buruk? Anda pernah menumpang kereta ekonomi jarak jauh, misalnya kereta Bangunkarta dan Gayabaru Malam jurusan Jakarta-Surabaya atau Kereta Progo jurusan Jakarta-Yogyakarta, bisa membandingkan kondisi pelayanan penumpang kereta sebelum dan sesudah kebijakan itu diterapkan.

Menurut Sumarlik, penumpang asal Babat, Lamongan, Jawa Timur, pembatasan penumpang memang ada bagusnya. Selain semakin teratur, kini kereta juga mulai nyaman. Berbeda dengan kondisi sebelum ada kebijakan pembatasan penumpang. Alih-alih bisa duduk nyaman, kadang berdiri pun tidak tenang.”Bagus sih bagi konsumen, lebih tertib dan teratur. Cuma, itu lho, penjual minuman masih banyak, yang tidak beli tiket kadang masih ada,” kata ibu dua anak ini ketika ditemui merdeka.com di Stasiun Pasar Senen, Ahad (25/3) pagi.

Dulu, sebelum kebijakan pembatasan, kondisi kereta ekonomi jarak jauh tak jauh berbeda seperti kondisi yang diceritakan oleh Stuart. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero masih menjual tiket penumpang duduk dan berdiri. Sebab itulah jumlah penumpang dalam satu kereta bisa melebihi kursi. Satu kereta mestinya diisi 150 orang, malah diisi 200 hingga 250 penumpang. Tak mengherankan jika banyak penumpang berdiri, tidur terlentang sambil menjulurkan kaki di lorong-lorong kursi. Belum lagi dihitung jumlah pengasong dan pengamen wara-wiri.

Surat Direksi PT KAI Nomor 104 pada 16 September 2011 telah mengubah citra kereta ekonomi. Surat yang didasarkan pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 9 tahun 2004 mengenai standar pelayanan minimal angkutan kereta dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 7 tahun 2009 tentang angkutan orang dengan kereta ekonomi itu baru direalisasikan dua pekan setelahnya. Kini, setelah enam bulan kebijakan berjalan, sudah ada perubahan pada pelayanan kereta. Saban penumpang mendapat jatah kursi. Pengasong dan pengamen juga dibatasi.

Selain Sumarlik, beberapa penumpang lain juga merasakan ada perbaikan pada pelayanan kereta. Seperti dirasakan Tomi, warga Surakarta dan Imron, warga Pasuruan, Jawa Timur. Keduanya naik kereta ekonomi. Cuma nama dan rute jurusan kereta berbeda. Tomi dua bulan sekali bolak-balik naik kereta Sawunggaling, sementara Imron dua kali sebulan naik kereta Kertajaya.

Menurut keduanya, akibat pembatasan penumpang itu, kini tiket sulit dicari. "Diborong calo, jadi terpaksa membeli dari mereka," kata Imron. Pengantin baru ini mengaku tidak pernah kebagian tiket meski sudah berusaha memesan sejak tujuh hari sebelum keberangkatan, sesuai pengumuman PT KAI. Begitu pula ketika perjalanan balik ke Jakarta dari Pasar Turi, Surabaya. Dia terpaksa membeli dari calo.

Kalau lagi mujur, dia mendapat harga Rp 70 ribu per tiket. Padahal resmin ya Rp 43 ribu. Tapi ketika sial, dia harus rela merogoh Rp 85 ribu  hingga 100 ribu. Harga karcis calo di Surabaya malah lebih ngeri lagi, bisa Rp 150 ribu per tiket. Tentu saja ini memberatkan Imron yang cuma buruh dengan penghasilan Rp 1,5 juta per bulan.(www.merdeka.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar