Senin, 09 April 2012

Cemas Monas lemas

Sudah lebih sepertiga abad Monumen Nasional (Monas) berdiri. Tapi siapa tahu, sampai kapan tugu raksasa itu kuat tegak? Menurut Anggota Tim Ahli Cagar Budaya dan Tim Pemugaran Monumen Yuke Ardiati, hingga kini pemerintah belum memiliki prosedur baku perawatan dan rehabilitasi konstruksi bangunan tugu. Sebab, desain konstruksi bangunan asli serta dokumen-dokumen penunjang, misalnya data hasil perbaikan monumen sejak mulai dibangun pada 1961, belum ditemukan.

Karena itu hingga kini belum ada yang tahu kerusakan yang menjangkiti bangunan cagar budaya itu. Keropos atau masih kuat?  Kenyataanya, Yuke melanjutkan, memang sulit mendeteksi sampai kapan bangunan itu mampu menopang badan tugu. ”Ibarat orang tua, kami sebagai dokter sulit mendeteksi sakit yang diderita Monas. Rekam medis kerusakannya tidak ada,” kata Yuke, kepada merdeka.com pertengahan bulan lalu.

Padahal untuk bangunan cagar budaya seusia monas, prosedur perawatan atau rehabilitasi bangunan harus ada. Prosedur itu bisa dibuat kalau dokumen-dokumen pembangunan ada. Misalnya, catatan-catatan perbaikan kerusakan atau rehabilitasi gedung; berapa kali direhabilitasi, komponen apa yang diubah dan bagaimana prosesnya. Dengan data itu, pemerintah bisa membuat diagnosa-diagnosa potensi kerusakan pada bangunan.

Ketika diagnosa selesai dibuat, berikutnya pembuatan rencana perawatan atau semacam prosedur dasar rehabilitasi berkala. ”Seperti proyek pembangunan gedung lain, pasti ada desain gambar konstruksi awal, lengkap dengan data-data perbaikan atau rehabilitasi bangunan. Minimal perawatan selama masa garansi,” ujar Yuke.

Begitu juga nama dan jenis komponen mekanis bangunan, seperti jenis besi dan kekuatan beton yang dipakai. Tapi hingga kini, dokumen-dokumen lengkap pembangunan Monas belum ditemukan. Yuke juga mengaku tidak tahu, sebenarnya ada atau tidak dokumen-dokumen itu. Masalah inilah yang menyulitkan pemerintah. Walhasil, belum ada satu ahli konstruksi yang bisa mendeteksi kerusakan pada Monas.

Meski secara kasat mata, lanjut Yuke, struktur bangunan monumen setinggi 132 meter ini masih kokoh, tapi bagaimana dengan kondisi komponen mekanis bangunan tugu, misalnya kondisi beton, angkur atau besi penyangga tugu. ”Karatan atau tidak, atau kondisinya seperti apa, tidak ada yang tahu,” dia menegaskan.

Veroni Sembiring, Kepala Seksi Pemeliharaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Monas, mengatakan selama ini UPT hanya memiliki desain samping bangunan. Namun ia mengakui jika desain itu hanya menjelaskan kondisi monumen secara umum, misalnya ukuran lebar dan tinggi pelataran, cawan monument, dan tugu. Selama ini perawatan juga hanya sebatas pembersihan dan pengecatan bangunan. Misalnya terowongan masuk, museum, pelataran, cawan dasar hingga tugu.

Veroni menjelaskan pemerintah awal tahun ini membentuk Tim Kajian Daya Dukung Struktur Tugu Monas. Tim ini akan mengkaji danmembersihkan badan tugu dengan menggandeng PT Kucher, perusahaan asal Jerman yang bergerak pada jasa pembersihan dan perawatan monumen nasional di seluruh dunia.

Pemerintah provinsi juga sudah membuat rencana kegiatan rehabilitasi untuk pelataran dan terowongan monumen. Yuke, yang juga anggota tim kajian langsung menimpali. “Rencana itu memang ada, tapi mana, perusahaan Jerman mengaku tidak bisa kok. Mereka pulang, jadi direhabilitasi atau tidak saya belum tahu.”

Selama ini, dia melanjutkan, rehabilitasi Monas baru sekali dilakukan pada 1995. Pemerintah saat itu menambah lapisan emas pada lidah api, dari berat awal 48 kilogram menjadi 50 kilo gram. Penambahan dilakukan karena kilau emas mulai luntur akibat cairan asam dari air hujan. Ketika ditanya kondisi Monas saat ini? Perempuan yang kini tengah menggarap disertasinya itu menjawab, “Banyak mengucap laa ilaaha illallah saja kalau mau naik ke puncak,” ucapnya terkekeh.

Monas mulai dibangun pada 1961 pada era pemerintahan Soekarno. Monumen itu resmi dibuka untuk umum pada 1975. Berdiri di tengah lapangan yang mengalami lima pergantian nama; mulai dari Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas.  Monumen itu simbol kemerdekaan Indonesia setelah pemerintahan kembali ke Jakarta dari Yogyakarta pada 1950. Di puncak monumen, ada mahkota lidah api dari perunggu seberat 14,5 ton berlapis emas 50 kilogram.(www.merdeka.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar