Catatan pada lembaran sejarah animasi Indonesia dibuka oleh kisah Dukut
Hendronoto. Lelaki dengan panggilan beken Pak Ooq ini ialah animator
pertama yang mendapat kesempatan belajar ke Studio Walt Disney di
Amerika Serikat pada 1952. Dia diminta oleh Presiden Soekarno buat
berguru ilmu pembuatan film animasi ke studio tersohor milik Walter
Elias Disney, tokoh yang mempopulerkan Mikey Mouse, Goofy, dan Donald
Duck.
Sepulang dari sana dua tahun kemudian, dia langsung
mendapat proyek membuat film animasi pertama kali dari pemerintah. Film
animasi yang ia garap waktu itu bercorak propaganda dengan menggunakan
teknik gambar dua dimensi, sel transparan, atau lembaran tembus pandang,
hitam dan putih. Pemerintah menugasi Ooq membuat film animasi untuk
mengkampanyekan pemilihan umum. Akhirnya dibuat film berjudul “Si Doel
Memilih”.
Film animasi pendek bikinan Ooq itu diproduksi oleh
Pusat Produksi Film Negara (PPFN).“Saya sudah agak lupa film itu.
Sekarang di mana saya tidak tahu dokumentasinya. Maklum, negara ini
buruk kalau soal pengarsipan,” kata Gotot Prakosa, dosen Fakultas
Perfilman untuk Jurusan Animasi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ),
kepada merdeka.com Jumat pekan lalu.
Menurut Gotot,
sejak saat itu para animator Indonesia menyepakati karya Ooq sebagai
titik tolak kemunculan animasi pertama di Indonesia. Perkembangan
selanjutnya, film animasi hanya sebagai pelengkap. Misalnya untuk
membuat judul, pendukung film dokumenter, keperluan pelengkap grafis,
menerangkan tentang lokasi dan denah animasi. Baru pada 1970-an, ketika
Televisi Republik Indonesia (TVRI) menggaung, teknik animasi mulai
sering digunakan untuk membuat iklan film pendek.
Salah satu
perusahaan film iklan yang menggunakan teknik animasi kala itu adalah
Anima Indah, perusahaan rumah produksi milik Luqman Lateef Keele,
seniman film asal Amerika Serikat yang begitu mencintai kebudayaan
Indonesia. Di studio film Anima itulah banyak pemuda-pemuda Indonesia
belajar. Di bawah asuhan Luqman, mereka mengikuti pelatihan ke studio
Group Dart dan Toei di Tokyo, Jepang. Misalnya ada nama Darmoro,
Purnomo, Partono, Denny Allaudsyah Djonaidi, Wagiono Sunarto, Heru, dan
Sudarmaji.
Setelah bertahan beberapa tahun, Anima Indah akhirnya
bubar juga pada 1976. Regenerasi pun terjadi. Sejak saat itulah
bermunculan animator-animator muda berbakat di Indonesia. Menurut Gotot,
dunia animasi Indonesia sebenarnya tidak pernah pasang-surut. Kondisi
mereka pasang terus. Buktinya, setelah kemunculan karya-karya Ooq dan
generasi terdekatnya, berikutnya muncul nama Pak Raden pada pertengahan
1980-an, masih segenerasi dengan Gatot.
Pak Raden sempat berguru
membuat film animasi ke Perancis. Sepulang dari sana, bersama PPFN dia
membuat serial “Si Unyil”, tayangan boneka animasi yang sempat populer
hingga awal 1990-an. Setelah Si Unyil tenggelam, sempat muncul film
animasi “Satria Nusantara”. Namun segera melorot. Gotot, yang juga Ketua
Asosiasi Film Animasi Indonesia (ASIFA) menjelaskan perbedaan karya
film animasi dulu dan sekarang jelas pada perkembangan teknologi yang
digunakan.
Revolusi teknologi menuntut para animator menghasilkan
kualitas karya lebih baik. Perbedaan lain, dulu banyak animator yang
mendapat proyek dari pemerintah untuk membuat serial film animasi yang
bercerita tentang legenda, seni, dan budaya lokal. Tapi sekarang tidak.
Para animator bekerja sendiri di rumah-rumah produksi milik mereka.”Tapi
persoalannya sama. Karya film animasi di dalam negeri membutuhkan
ongkos lebih besar. Itu kenapa banyak stasiun televisi membeli film
animasi asing,” ujar Gatot
Misalnya untuk pembuatan film animasi
panjang berbau sejarah, budaya, atau cerita khas Indonesia. Sebenarnya
animator lokal sudah banyak mampu membuat dengan kualitas bagus. Tapi
semua mentok urusan ongkos. Contohnya untuk menyalin hasil karya dari
tiga dimensi ke pita film yang diputar di Bioskop, harganya bisa
miliaran rupiah. Belum ditambah biaya iklan dan suap ke bioskop agar
mendapat jatah pemutaran pertama.”Makanya banyak animator kita memilih
bekerja pada rumah-rumah produksi asing. Anak didik saya banyak seperti
itu. Mereka tetap hidup,” katanya.
Sebut saja nama Rini Sugiarto,
salah satu animator Indonesia yang terlibat film animasi petualangan
tokoh Tintin yang legendaris. Film garapan sutradara Steven Spielberg
dan Peter Jacson itu disebut-sebut sebagai film animasi tigA dimensi
tercanggih abad ini. Bagi Gotot, orang-orang seperti Rini itu banyak di
Indonesia. Mereka sudah biasa bekerja untuk rumah-rumah produksi asing
di luar negeri.”Jadi nggak usah khawatir, mereka masih bisa hidup meski
kelihatanya tenang,” ujarnya.
Sumber: http://www.merdeka.com/khas/berguru-ke-walt-disney-animasi-indonesia-1.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar