Kemarin ada kasus 7 WNI ditembak mati Polisi Malaysia gara-gara
terlibat aksi kejahatan, yakni perampokan. Tulisan ini tidak mengulas
tentang cerita WNI yang ditembak mati polisi negeri Jiran itu, melainkan
hanya mengingatkan kita tentang asal usul dan sejarah Tenaga Kerja
Indonesia (TKI) ke luar negeri.
Ada banyak cerita miris tentang
TKI di luar negeri. Coba buka ingatan anda tentang kisah Cariyati,
pembantu rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Malaysia pada 2007
silam. Dia kabur dari lantai 15 apartemen majikan karena tak kuat
siksaan juragan.
Kemudian kisah Ester Ria (32), TKI asal Desa
Selange, Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yang
tewas setelah dua hari menahan sakit akibat siksaan juragan pada Agustus
2013 lalu. Sebenarnya masih seabrek kisah TKI yang disiksa majikannya
di negeri orang.
Kian ngeri bila kita melongok data kasus tenaga
kerja Indonesia yang terancam atau sudah dihukum mati di luar negeri,
misalnya kisah Welfrida Soik, TKI asal NTT yang kini menanti hukuman
mati di Malaysia. Belum lagi kisah TKI di Arab Saudi, yang konon menurut
Saudi Gazzette, media Timur Tengah, setidaknya ada 25 TKI menanti
hukuman mati, seperti dialami Ruyati binti Sapubi yang dihukum pancung
pada 2011 silam.
Lalu bagaimana sih asal usul dan sejarah TKI itu?
Sejarah
pengiriman TKI ternyata panjang sekali. Dimulai pada 1890-an, jauh
sebelum republik ini merdeka. Data Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan TKI (BNP2TKI), pada awalnya pengiriman TKI dilakukan oleh
pemerintah Hindia Belanda dengan cara mengirim buruh kontrak ke negara
Suriname, Amerika Selatan yang saat itu merupakan jajahan Belanda.
Saat
itu TKI dikirim karena Suriname kekurangan tenaga kerja untuk mengurus
perkebunan karena budak asal Afrika yang bekerja di perkebunan Suriname
dibebaskan pertengahan 1863 sebagai bentuk pelaksanaan dari politik
penghapusan perbudakan. Gelombang pertama TKI yang dikirim tiba di
Suriname 9 Agustus 1890 dengan jumlah 94 orang.
Mulai saat itu
pemerintah Hindia Belanda secara reguler mengirimkan TKI ke Suriname.
Pengiriman TKI ke Suriname oleh pemerintah Hindia Belanda berakhir pada
1939 dengan jumlah total mencapai 32.986 orang.
Ironisnya,
pengiriman TKI ini berlanjut setelah Indonesia merdeka. Namun era ini
tujuan pengiriman TKI menyebar, mulai beralih ke Arab Saudi dan
Malaysia. Arab Saudi menjadi tujuan pengiriman TKI karena ada hubungan
religius yang erat antara Indonesia dengan Arab Saudi yaitu melalui
jalur ibadah haji.
Pada saat orang Indonesia melaksanakan ibadah
haji mereka berinteraksi dengan warga lokal Arab Saudi, bahkan ada yang
kemudian menikah, menetap dan membuka usaha di sana. Lambat laun
hubungan semakin erat sampai kemudian hari ada yang mengajak saudaranya
ke Arab Saudi untuk bekerja.
Malaysia menjadi negara tujuan lain
karena memang secara geografi dekat dengan Indonesia. Apalagi sejak
dulu memang sudah ada perlintasan di batas antara kedua negara. Sampai
1980-an pengiriman TKI dilakukan berdasarkan hubungan kekerabatan, per
orangan dan tradisional.
Jumlah TKI yang tercatat pertama kali
pada 1983, yakni sebanyak 27.671 orang. Mereka bekerja di delapan
negara. Jumlah itu membengkak pada 1992 yang mencapai 158.750 orang.
Celakanya, dari jumlah TKI di luar negeri itu, mayoritas didominasi
perempuan.
Setelah 1980, pemerintah baru menetapkan regulasi
untuk mengatur pengiriman TKI karena pemerintah melihat nilai positif
dan nilai ekonomis tinggi. Dalam buku berjudul: Sejarah kecil "petite
histoire" Indonesia, yang ditulis Rosihan Anwar, orang malaysia menyebut
TKI dengan sebutan Indon, yang artinya bodoh, tidak kompeten dalam
bekerja dan cenderung berbuat kriminal.
Pertanyaannya, sampai kapan Indonesia bakal jadi pemasok TKI ini?
Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-asal-usul-dan-sejarah-tki-pertama-kali.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar