Bangkitnya Kerajinan Batik Mojokerto
JENDELANESIA, Mojokerto - Memegang canting, tangan Sri Sarasati bergerak pelan mengikuti lekuk gambar motif batik pada kain mori putih di gawangan yang berdiri agak doyong ke wajahnya. Raut wajah Sri nampak serius, dengan mata terus tertumbuk pada canting yang dipijakkan di sisi-sisi kain. Begitu canting diangkat, bercak tinta malam aneka warna itu lengket pada kain bermotif dedaunan yang biasa disebut motif batik Pring Sedapur itu.
Perempuan 24 tahun ini merupakan salah satu pembatik di Desa Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Sudah 25 tahun dia menekuni batik. Saban hari, Sri selalu duduk ditemani canting, kompor lengkap dengan wajan kecil penuh tinta di salah satu ruang sempit rumahnya sendiri. ”Dari kecil dulu saya diajari membatik sama embah dan ibu saya,” ujarnya, Selasa 2 November 2010.
Sri Sarasati ini bukan pengusaha. Dia pembatik rumahan yang mengerjakan batik sendirian, tanpa bantuan karyawan atau pegawai. Dia juga tidak keliling memasarkan batik buatanya. Batiknya cukup dititipkan kepada Ernawati, pembatik lain yang memiliki usaha batik paling besar. Batik buatan Sri dibeli oleh Erna dengan harga antara Rp 125 hingga 140 ribu. Bukan hanya Sri, tapi beberapa pembatik di desa itu juga demikian.
Di kawasan Surodinawan, Ernawati berperan sebagai koordinator penjualan batik yang dibuat oleh tetangganya. Menurut Erna, satu minggu sekali pembatik di Kecamatan Prajurit Kulon dan Magersari menitipkan batik hasil di showroomnya. ”Lebih tepatnya mungkin saya ini koordinator. Pembeli itu pesan kepada saya. Kalau permintaan banyak, orderan saya bagi dengan pembatik lain,” ujar Erna, Rabu siang.
Menurut Erna, untuk membuat satu lembar batik dibutuhkan waktu lama, antara satu minggu hingga satu bulan. Itu sebabnya pesanan harus dikerjakan bersama-sama pembatik lain. Di showroomnya, satu lembar batik dijual dengan harga antara Rp 125 hingga Rp 2,5 juta, tergantung kualitasnya.
Dulu, kata dia, pada tahun 90-an sebenarnya beberapa warga kampung sudah membuka usaha batik ini. Mereka membatik, lalu menjualnya ke pasar desa, tetangga, dan kawan. Namun pada tahun 1998 usaha para pembatik ini jatuh diterjang krisis moneter. Dari beberapa pembatik, hanya Erna yang menekuni usahanya hingga tahun 2000-an.
Seiring berputarnya roda waktu peminat batik ternyata makin tinggi. Erna pun tambah mantap dengan potensi bisnis ini. Pada tahun 2002 dia mengajukan izin usaha, dan turun pada tahun 2003. Saat itu dia hanya ditemani 5 karyawan. Dibantu lima karyawan itu, bisnis batik Erna terus meningkat. Tahun 2009 kemarin, Erna mulai berani mematenkan mereknya sendiri “Batik Tulis Erna Mojokerto”.
Dengan bantuan Pemerintah Kota Mojokerto, sudah belasan kali dalam setahun Erna mengikuti pameran batik tingkat daerah maupun nasional. Ajang pameran ini dimanfaatkan Erna dengan menjaring konsumen dengan cara menyebar brosur dan kartu nama. Alhasil, batiknya kini semakin dikenal. Pemesannya ada yang datang dari Surabaya, Malang, Jakarta, Medan, Kalimantan, hingga beberapa daerah di Jawa Tengah.
Banyaknya permintaan ini otomatis mendongkrak omzet usaha Erna. Dalam satu bulan, omzet usaha penjualan batik di showroomnya bisa mencapai kisaran Rp 25 hingga 60 juta. ”Alhamdulillah. Usaha batik ini tidak rugi. Kalau saya ingat-ingat sejak tahun 2000 saya kok belum pernah rugi,” ujar Erna, sembari melepas tawanya.
Kini jumlah karyawan perempuan berjilbab itu sebanyak 15 orang. Mereka adalah pembatik yang bekerja dengan sistem borongan. Upahnya antara Rp 5000 hingga 9000 per lembar batik. Tinggi rendahnya ongkos, tergantung keruwetan membatiknya. Contohnya, untuk mengerjakan satu lembar batik dengan motif ringan, upahnya berbeda dengan saat mengerjakan satu lembar batik halusan.
Borongan itu menguntungkan semua pihak, kata dia. Namun demikian, usaha Erna ini bukan tanpa halangan. Gempuran batik printing (batik buatan pabrik) yang dijual murah di pasaran turun mengancam. Dengan harga lebih murah, masyarakat rupanya lebih memilih batik printing itu. ”Itu saja masalahnya. Kalau soal modal dan pemasaran, saya kok merasa baik-baik saja,” tuturnya.
Untuk mengembangkan bisnis dia memanfaatkan pinjaman bergulir dari Pemerintah Kota Mojokerto sebesar Rp 8 juta. Adapun pembatik sekala kecil rumahan mendapat pinjaman dana bergulur sebesar Rp 1 juta dengan masa pengembalian sepuluh bulan.
Erna juga bukan tergolong pengusaha pelit. Kalau ada pembatik di kampungnya kurang modal, dia menalanginya dengan menyisihkan sebagian pinjaman yang ia terima dari pemerintah. ”Biasanya modal yang dari pemerintah kota itu saya bagi dengan mereka, biar tetap bisa bekerja,” ujar Erna.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kota Mojokerto, Harlis Styati mengatakan, memang pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak usaha batik di Kota Mojokerto. Mulai dari bantuan dana bergulir tanpa bunga, pelatihan, hingga bantuan pemasaran. “Mereka kami ajak untuk ikut pameran agar usahanya dikenal pembeli,” ujar Harlis.
Usaha pembinaan Pemerintah Kota Mojokerto memang tak sia-sia. Pada Juli tahun ini, dalam pameran batik untuk memperingati Hari Koperasi tingkat Nasional di Gresik, batik tulis Kota Mojokerto mendapat juara satu. Prestasi itu tak lepas dari kepiawaian Erna. Dalam pameran tersebut dia menyabet peringkat satu untuk kategori batik dengan kualitas paling baik.
Tak cuma itu, dalam pameran acara Dekranasda di Jatim Exspo Surabaya pada Mei lalu, Erna dan pembatik Mojokerto juga mendapat juara satu untuk kategori desain terbaik. ”Kami tidak akan tinggal untuk memajukan kerajinan batik. Kini tinggal mereka (pembatik) sendiri yang mengembangkan,” ujar Harlis.
MUHAMMAD TAUFIK