Minggu, 06 November 2011

Latihan Seni Bagi penyandang Cacat di Yogya

Latihan Seni Bagi penyandang Cacat di Yogya
JUM'AT, 04 NOVEMBER 2011 | 18:18 WIB

TEMPO InteraktifYogyakarta- Puluhan seniman yang tergabung dalam Metropolightberry Yogyakarta, selama 6-26 November 2001, akan menggelar workshop seni bagi kaum penyandang cacat (difable) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bantul Yogyakarta. Direktur program Metropollightberry, Theresia Agustina Sitompul, menuturkan bahwa tujuan program ini untuk "menggugat" wacana kepedulian tentang kaum difable yang selama ini kondisinya masih memprihatinkan.

"Kegiatan ini berangkat dari kekecewaan kami ketika berulang kali melihat para elite, jika bicara soal difable, hanya berputar soal wacana penyadaran, tapi geraknya nol, tidak ada langkah nyata yang tampak," kata Theresia pada Jumat, 4 November 2011.

Perlakuan dan penanganan pada difable di negara ini masih sering terkendala pada birokrasi yang diskriminatif. Dengan mengusung tema "Difable juga Manusia", bengkel kerja yang dilakukan selama dua puluh hari ini akan berkonsentrasi pada beberapa materi pelatihan yang diberikan para seniman yang biasa berkecimpung di bidangnya.

Kegiatan yang dilakukan itu adalah bengkel kerja seni lukis dan grafis (8-9 November), seni daur ulang (12-15 November), fotografi video dan kriya-keramik (18-19 November), seni tari dan teater (18-26 November). Semua kegiatan di pusatkan di SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta.

Menurut Theresia, acara ini merupakan program pendukung Bienalle Jogja XI 2011. Setelah bengkel kerja selesai, akan dilakukan pameran karya di Alun-alun Kidul, 11-17 Desember 2011. Para seniman juga akan menggelar diskusi bersama tentang seni arsitektur di Alun-alun Kidul pada 14 Desember. Acara ini sebagai rangkaian dalam perayaan hari difable internasional yang jatuh 3 Desember mendatang.

Tempointeraktif.com/PRIBADI WICAKSONO

Sabtu, 18 Juni 2011

Manik-Manik Jombang Nasibnya Mengambang 



JENDELANESIA, Jombang-- Butiran manik-manik dari kaca tercepak di meja kerja Nur Wachid. Ada yang bulat berlukis tinta, hingga bertatah motif bunga. Ukuranya beragam pula, mulai sebesar kelereng, biji tasbih kecil, hingga kerikil. Warnanya pun rupa-rupa, mirip montase warna pelangi; merah, jingga, kunig, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna itu seperti dibalutkan pada desain bentuk dasar manik-manik; bulat, kotak, kerucut, hingga bulat lonjong mirip telor.

Wahid adalah perajin manik-manik asal Desa Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dari dua tangannya butiran manik-manik dengan desain, warna, dan corak beragam itu dirangkai menjadi kalung dan gelang. Model juga ia desain sendiri. Ada jenis kalung dan gelang bercorak etnik, klasik, motif, dan kontemporer yang hanya mengandalkan keindahan desain saja.

Semua jenis kalung dan gelang itu didesain dan dirangkai sendiri di ruang kerja pria 42 tahun ini. Sudah 10 tahun ia bergelut perkara rangkai-merangkai manik-manik itu. Buah kerajinanya secara umum di pasarkan di Jombang dan beberapa kota sekitar. Menurut dia, produk manik-manik Jombang itu kalah dipasaran lokal."Tapi untuk segmen kelas masyarakat tertentu kami unggul,” kata dia saat Jendelanesia mengunjungi showroomnya pertengahan 2010 lalu, di Jalan Raya Gambang.

Bapak tiga anak ini bertutur tentang geliat para perajin dan pengusaha manik-manik di desanya, yang kini menjadi sentra kerajinan produk hiasan ini. Perajin, kata dia, kini mencoba menjajaki pasar dunia, meski langkah itu diakuinya terlampau berani. Namun, resiko kegagalan tetap diambil karena pasar lokal dalam Negeri kini mulai lunglai akibat gempuran produk manik-manik impor dari China dan Thaiwan.

Kondisi itu dirasakan 105 pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Manik-manik Jombang (APMJ). Meski manik-manik buatan mereka memiliki kualitas lebih baik dibanding produk impor, persaingan harga membuat manik-manik tidak stabil. Dengan perbandingan harga yang lebih murah, konsumen lokal lebih memilih membeli manik-manik asal dua negera tersebut.

Wachid membandingkan. Jika di pasaran harga manik-manik kalung jenis kontemporer-yang hanya mengandalkan keindahan-hasil produksi dalam negeri dijual sebesar Rp 10.000, maka produk impor dari China dan Thaiwan dijual sebesar Rp 3000. Perbandingan harga yang jomplang itu jelas membuat pengusaha lokal kelimpungan.”Kami akui kami kalah harga. Masyarakat kita jelas milih yang murah,” ujarnya.

Kendati demikian, hal itu tidak lantas membuat nyali pengusaha ciut. Sejak awal tahun lalu, para perajin justru kian tertantang menekuni bisnis ini. Pasar dunia mulai dirambah dengan cara membuka jaringan-jaringan pengusaha antar Negara, dan membuka website pemasaran di internet. Bahkan, beberapa pengusaha tertantang mendesain sendiri manik-manik dengan menyesuaikan pada kebutuhan pasar.

Dampaknya, beberapa bulan terakhir segmen pasar pun tumbuh. Hal itu terlihat dari tingginya pemesanan barang. Misalnya dari masyarakat elit dari Jakarta, dan masyarakat dari daerah-daerah di luar pulau jawa yang masih mengagungkan etnik kedaerahan, seperti; Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali, Kalimantan, Toraja, dan Irian Jaya. Bahkan, produk mereka juga terdengar hingga ke telinga pengusaha manik-manik di Negara lain; Australia, Malaysia, Kanada, hingga Amerika, yang kerap memesan beberapa kodi material pembuatan manik-manik setengah jadi.

Hal itu berdampak pada omzet penjualan dan produksi usaha. Dengan ongkos produksi sebesar Rp 35 juta perbulan, Wacid mengaku mampu memproduksi 10.000 manik-manik setiap bulan. Dari penjualan itu, omzet usahanya meningkat antara Rp 50 hingga 100 juta, tergantung pesanan.

Hal itu dibenarkan Prayitno, Ketua APMJ. Menurut dia, meski pesanan dari luar negeri meningkat, hingga kini perajin masih tetap mengeluhkan soal lemahnya pemasaran, bukan lemahnya modal. Dia berharap, pemerintah tetap melindungi produk lokal saat bersaing dengan produk impor.  Selain itu, pelatihan-pelatihan usaha juga dibutuhkan agar pengusaha lebih siap menghadapi pasar duni.

Diakuinya, selama ini Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi kendala tumbuh kembangya usaha ini. Sebab itu, dia mendesak pemerintah turun tangan mengatasi permasalahan ini.”Kami inginya pemerintah turun tangan mempromosikan produk kami. Pameran-pameran itu penting,” ujarnya. MUHAMMAD TAUFIK


Bantengan Mojokerto


JENDELANESIA - Musik kentrung mengiringi aksi dua orang berkostum ala banteng. Suasana mistis makin terasa ketika banteng jadi-jadian itu meloncat-loncat memeragakan tingkah liar banteng sungguhan. Satu orang memegang topeng kepala hewan liar itu dengan posisi berdiri, sementara satu lagi membungkuk di belakang, menutup dirinya dengan kain hitam polos.

Semakin dipandang, aksesoris dua orang itu benar-benar menyerupai kulit banteng sungguhan. Aksi banteng jadi-jadian itu ditingkahi belasan pesilat yang menampilkan beberapa jurus. Meloncat, menendang, salto, hingga saling jotos dan saling tangkis. Bahkan di antara pesilat itu ada yang kesurupan (trance). Aksi-aksi itu bagi masyarakat Mojokerto, Jawa Timur, disebut kesenian bantengan.

Ahad siang pertengahan 2010 lalu, di atas lapangan rumput di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, digelar lah Festival Bantengan tersebut. Banteng jadi-jadian saling beradu lihai memeragakan gerak banteng sungguhan. Aksi mereka akan dinilai oleh beberapa juri. “Siapa yang tingkahnya benar-benar mirip banteng, dialah yang menang,” kata Prio Adi Santoso, salah satu peserta bantengan.

Menurut Prio, bantengan adalah warisan kesenian Majapahit. Konon, saat kerajaan terbesar di Nusantara itu berdri, sempat tersiar cerita tentang munculnya dua kerbau yang terlibat pertempuran sengit dengan macan. Akhirnya, berkat kerja sama dua kerbau itu sang macan kalah. “Intinya kalau kita bekerja sama, apapun rintanganya pasti akan bisa diselesaikan. Itulah inti dari bantengan,” ucapnya.

Dalam seni bantengan juga ditampilkan sebuah cerita tentang seekor burung gagak yang mencegah seekor ular memakan katak. Gagak dan ular akhirnya berkelahi, dan ular kalah.

Cerita itu mengajarkan kepada masyarakat agar selalu bersikap ramah dengan sesama. Yang kuat harus membela yang lemah, meski harus mempertaruhkan nyawa. “Setidaknya itulah ajaran dari cerita seni bantenganyang akrab dikalangan masyarakat Mojokerto ini.”

Versi lain menyatakan, bantengan berasal dari legenda sebuah dusun di Trawas, Mojokerto. Konon, pernah muncul lantunan salawat Nabi Muhammad SAW yang menggema di antara rimbunnya pepohonan di sebuah lokasi yang disebut Sumber Macan. Berdasarkan legenda setempat, nama Trawas dipercaya berasal dari pohon besar yang oleh masyarakat disebut sebagai pohon trawas.

Pohon trawas itu dipakai oleh pendiri dusun yang bernama Ki Gibah Mangundiwoso dan Ki Topeng Waja untuk menaklukkan seekor buaya sakti bernama Bajul Sengoro. ”Apapun bentuk ceritanya, yang penting ini adalah kebudayaan lokal yang perlu dilestarikan,” kata Muhamma Andri, Camat Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Menurut Andri, pelestarian budaya itu harus terus dilakukan. Caranya,Festival Bantengan harus terus dilakukan. Pemerintah juga akan segera mematenkan kesenian bantengan ini. Andri khawatir, bantengan akan diserobot daerah lain.

MUHAMMAD TAUFIK

Jumat, 10 Juni 2011

Sasel Fiksi Mini Hingga Film Mini


JENDELANESIA, Jakarta-Anda mungkin pernah menjumpai tulisan fiksi pendek pada status acount seorang kawan di situs jejaring sosial, misalnya kicauan di twitter atau celotehan pada facebook. Isinya bisa tentang apa saja. Dengan polesan majas yang memikat, tulisan-tulisan itu bisa disebut sebagai karya sastra elektronik (sasel) Fiksi Mini. Kata yang ditulis tak perlu panjang, cukup berisi 50 hingga 140 karakter saja.

Bagi Pengamat Sastra Cunong Nunuk Suraja, sasel fiksi mini adalah hal baru dalam bidang sastra. Menurud dia, menulis status di situs jejaring sosial paling nyaman untuk mengekspresikan kebebasan seseorang.”Itu bagus. Saya menyebutnya sastra liberal karena tidak ada editor dan imbalan honor,” kata dia, Rabu kemarin, 30 Maret 2011.

Cunong mengaku menikmati benar Fiksi Mini ini. Di sana dia merasakan ada kebebasan menulis apa saja, terbuka dengan komentar-komentar sastrawan lain. Tidak ada ruang dan skat kasta pada sasel itu. Di sana istilah senior-unior ditutup. Siapapun bisa menuangkan karya tulis sesukanya.”Komentar-komentar serius dan nakal tidak masalah, asal sopan saja,” ucap dosen Ibnu Khaldun Bogor kelahiran Yogyakarta itu.

Diki Umbara, Aktifis di Komunitas Fiksi Mini membenarkan. Sasel fiksi mini bersifat interaktif. Karya sastra itu mengilhami banyak orang terus berkreasi. Tak syak, kini Fiksi Mini menurunkan bentuk karya sastra baru; ada horor mini, saru mini, menu mini, hingga film mini. Diki sendiri lebih aktif pada pengembangan film mini di komunitasnya.

Ia aktif menjadi follower (pengikut) fiksi mini di twitter pada awal-awal tahun 2010 kemarin. Ketika membaca beberapa status kawan, bapak dua anak itu tertarik memfilmkan. Bersama kawanya juga, pada akhir tahun itu, sekitar bukan Oktober-November dia mulai membuat film dari tulisan-tulisan fiksi mini.”Setelah saya amati, tulisan fiksi mini bisa dibikin jadi sinopsis (ringkasan cerita film),” ujar dia.

Berbekal kamera pada telepon genggam, dosen ilmu media di beberapa perguruan tinggi itu mulai memproduksi dua film pendek, kemudian mengunggah ke youtube. Ternyata sambutan para pencinta film tinggi. Ada 5 ribu lebih orang yang membuka film itu di youtube.”Sampai saat ini kami sudah membuat 15 lebih karya film pendek,” ujar lulusan Manajemen Media Universitas Mercubuana, Jakarta, tahun 2010 itu.

Film fiksi mini ini tidak jauh berbeda dengan jenis film pendek lain. Film Indi misalnya. Menurut Diki, film fiksi mini dibuat dari naskah asli sasel fiksi mini sendiri. Sementara naskah film indi tergantung produser, yang biasanya menggunakan naskah non-fiksi mini. Durasinya juga super pendek, rata-rata tiga menit.”Mirip iklan,” kata dia.

Karya-karya film fiksi mini garapan Diki dan komunitasnya  bisa dilihat di http://filmfiksimini.wordpress.com/. Pada 26 Februari hingga 12 Maret kemarin mereka mengikutkan lima karya pada Festival Hoopla Film Mini di Singapura. Rencananya, mereka juga akan menggelar festival serupa di Bali pada 24 hingga 25 Juni tahun ini. Pesertanya dari komunitas film mini di Surabaya, Yogyakarta, Medan, Bali, dan Jakarta.

Aktifis Film Mini lain, Muhammad Syukur Nugroho menyebut, pembuatan genre film pendek ini juga bisa dengan banyak tema, misalnya puitis, drama, komedi, dan aktifitas sehari-hari. Semua tergantung naskah fiksi mini. Film bisa buat dengan menggunakan rupa-rupa alat perekam, bisa handpon dan kamera perekam.”Semua orang bisa membuatnya,” kta jebolan Institute Kesenian Jakarta yang akrab disapa Nungie ini.
MUHAMMAD TAUFIK






Makan Nasi Bungkus Campur Debu Merapi

Pengungsi letusan Gunung Merapi Stadion Maguwoharjo. TEMPO/Arif Wibowo


JENDELANESIA, Yogyakarta- Suparjo sibuk mengibas-ibaskan tangannya di atas bungkusan nasi di atas meja depan mukanya. Tangan pengayuh becak itu tidak sedang mengusir lalat, melainkan menghalau serbuk-serbuk debu vulkanik yang disemburkan dari perut Gunung Merapi yang meletus sejak 26 Oktober lalu. Saban pagi pria paruh baya ini sarapan nasi bungkus di lapak kaki lima pinggir Jalan Kota Yogyakarta.

“Setiap hari ya seperti ini, makan nasi bungkus campur debu,” celetuknya dengan raut muka gemas, sambil sesekali mengibaskan tangan menghalau debu yang beterbangan di sekelilingnya.

Usai menyikat habis nasi bungkus, Suparjo ngacir pergi dengan sepeda tuanya. Dia buru-buru, dan menolak bebincang dengan Jendelanesia. Beberapa hari terakhir ini abu merapi memang terus menyembur, dan menyebar ke seluruh mata penjuru angin. Debu dibawa angin ke udara, dan menutupi langit Yogyakarta. 

Di tiap sudut kota, debu seperti kelambu putih yang menghalangi pandang, ia hinggap di atap rumah dan menutup jalan-jalan.“Kalau tidak hati-hati saat berkendara sepeda bisa bahaya mas. Jalan ditutup abu,” kata Eko Santoso, warga Parakan Lor.

Menurut dia, sebelum Merapi meletus, hujan abu sering terjadi. Namun, ketebalanya tidak seperti saat ini. 

Seperti diberitakan, gunung berapi itu Kamis tengah malam kemarin kembali meletus. Awan panas yang keluar dari perut gunung, yang oleh warga sekitar disebut wedus gembel, menyapu beberapa wilayah. Akibat sapuan wedus gembel itu tercatat hingga sore kemarin 72 orang tewas dan 69 luka ringan hingga berat.

Menurut Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sifat Merapi tak bisa diprediksi. Kemungkinan Merapi masih akan mengeluarkan awan dan lahar panas. Selama Merapi masih aktif, awan panas berupa debu vulkanik itu akan terus mengguyur Kota Yogyakarta. Sementara untuk lahar panas akan mengalir melalui sambungan sungai-sungai di bawah Merapi.

MUHAMMAD TAUFIK
Bangkitnya Kerajinan Batik Mojokerto


JENDELANESIA, Mojokerto - Memegang canting, tangan Sri Sarasati bergerak pelan mengikuti lekuk gambar motif batik pada kain mori putih di gawangan yang berdiri agak doyong ke wajahnya. Raut wajah Sri nampak serius, dengan mata terus tertumbuk pada canting yang dipijakkan di sisi-sisi kain. Begitu canting diangkat, bercak tinta malam aneka warna itu lengket pada kain bermotif dedaunan yang biasa disebut motif batik Pring Sedapur itu.

Perempuan 24 tahun ini merupakan salah satu pembatik di Desa Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Sudah 25 tahun dia menekuni batik. Saban hari, Sri selalu duduk ditemani canting, kompor lengkap dengan wajan kecil penuh tinta di salah satu ruang sempit rumahnya sendiri. ”Dari kecil dulu saya diajari membatik sama embah dan ibu saya,” ujarnya, Selasa 2 November 2010.

Sri Sarasati ini bukan pengusaha. Dia pembatik rumahan yang mengerjakan batik sendirian, tanpa bantuan karyawan atau pegawai. Dia juga tidak keliling memasarkan batik buatanya. Batiknya cukup dititipkan kepada Ernawati, pembatik lain yang memiliki usaha batik paling besar. Batik buatan Sri dibeli oleh Erna dengan harga antara Rp 125 hingga 140 ribu. Bukan hanya Sri, tapi beberapa pembatik di desa itu juga demikian.  

Di kawasan Surodinawan, Ernawati berperan sebagai koordinator penjualan batik yang dibuat oleh tetangganya. Menurut Erna, satu minggu sekali pembatik di Kecamatan Prajurit Kulon dan Magersari menitipkan batik hasil di  showroomnya. ”Lebih tepatnya mungkin saya ini koordinator. Pembeli itu pesan kepada saya. Kalau permintaan banyak, orderan saya bagi dengan pembatik lain,” ujar Erna, Rabu siang.

Menurut Erna, untuk membuat satu lembar batik dibutuhkan waktu lama, antara satu minggu hingga satu bulan. Itu sebabnya pesanan harus dikerjakan bersama-sama pembatik lain. Di showroomnya, satu lembar batik dijual dengan harga antara Rp 125 hingga Rp 2,5 juta, tergantung kualitasnya.

Dulu, kata dia, pada tahun 90-an sebenarnya beberapa warga kampung sudah membuka usaha batik ini. Mereka membatik, lalu menjualnya ke pasar desa, tetangga, dan kawan. Namun pada tahun 1998 usaha para pembatik ini jatuh diterjang krisis moneter. Dari beberapa pembatik, hanya Erna yang menekuni usahanya hingga tahun 2000-an.

Seiring berputarnya roda waktu peminat batik ternyata makin tinggi. Erna pun tambah mantap dengan potensi bisnis ini. Pada tahun 2002 dia mengajukan izin usaha, dan turun pada tahun 2003. Saat itu dia hanya ditemani 5 karyawan. Dibantu lima karyawan itu, bisnis batik Erna terus meningkat. Tahun 2009 kemarin, Erna mulai berani mematenkan mereknya sendiri “Batik Tulis Erna Mojokerto”.

Dengan bantuan Pemerintah Kota Mojokerto, sudah belasan kali dalam setahun Erna mengikuti pameran batik tingkat daerah maupun nasional. Ajang pameran ini dimanfaatkan Erna dengan menjaring konsumen dengan cara menyebar brosur dan kartu nama. Alhasil, batiknya kini semakin dikenal. Pemesannya ada yang datang dari Surabaya, Malang, Jakarta, Medan, Kalimantan, hingga beberapa daerah di Jawa Tengah.

Banyaknya permintaan ini otomatis mendongkrak omzet usaha Erna. Dalam satu bulan, omzet usaha penjualan batik di showroomnya bisa mencapai kisaran  Rp 25 hingga 60 juta. ”Alhamdulillah. Usaha batik ini tidak rugi. Kalau saya ingat-ingat sejak tahun 2000 saya kok belum pernah rugi,” ujar Erna, sembari melepas tawanya.

Kini jumlah karyawan perempuan berjilbab itu sebanyak 15 orang. Mereka adalah pembatik yang bekerja dengan sistem borongan. Upahnya antara Rp 5000 hingga 9000 per lembar batik. Tinggi rendahnya ongkos, tergantung keruwetan membatiknya. Contohnya, untuk mengerjakan satu lembar batik dengan motif ringan, upahnya berbeda dengan saat mengerjakan satu lembar batik halusan.

Borongan itu menguntungkan semua pihak, kata dia. Namun demikian, usaha Erna ini bukan tanpa halangan. Gempuran batik printing (batik buatan pabrik) yang dijual murah di pasaran turun mengancam. Dengan harga lebih murah, masyarakat rupanya lebih memilih batik printing itu. ”Itu saja masalahnya. Kalau soal modal dan pemasaran, saya kok merasa baik-baik saja,” tuturnya.

Untuk mengembangkan bisnis dia memanfaatkan pinjaman bergulir dari Pemerintah Kota Mojokerto sebesar Rp 8 juta. Adapun pembatik sekala kecil rumahan mendapat pinjaman dana bergulur sebesar Rp 1 juta dengan masa pengembalian sepuluh bulan.

Erna juga bukan tergolong pengusaha pelit. Kalau ada pembatik di kampungnya kurang modal, dia menalanginya dengan menyisihkan sebagian pinjaman yang ia terima dari pemerintah. ”Biasanya modal yang dari pemerintah kota itu saya bagi dengan mereka,  biar tetap bisa bekerja,” ujar Erna.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kota Mojokerto, Harlis Styati mengatakan, memang pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak usaha batik di Kota Mojokerto. Mulai dari bantuan dana bergulir tanpa bunga,  pelatihan, hingga bantuan pemasaran. “Mereka kami ajak untuk ikut pameran agar usahanya dikenal pembeli,” ujar Harlis.

Usaha pembinaan Pemerintah Kota Mojokerto memang tak sia-sia. Pada Juli tahun ini,  dalam pameran batik untuk memperingati Hari Koperasi tingkat Nasional di Gresik, batik tulis Kota Mojokerto mendapat juara satu. Prestasi itu tak lepas dari kepiawaian Erna. Dalam pameran tersebut dia menyabet peringkat satu untuk kategori batik dengan kualitas paling baik.

Tak cuma itu, dalam pameran acara Dekranasda di Jatim Exspo Surabaya pada Mei lalu, Erna dan pembatik Mojokerto juga mendapat juara satu untuk kategori desain terbaik. ”Kami tidak akan tinggal untuk memajukan kerajinan batik. Kini tinggal mereka (pembatik) sendiri yang mengembangkan,” ujar Harlis.

MUHAMMAD TAUFIK

Istighfar Terakhir di Malam Letusan


TEMPO Interaktif, Yogyakarta-Ade Surya terkulai lemah di pojok ruang unit perawatan luka bakar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Sardjito, Kota Yogyakarta. Separuh kulit wajahnya melepuh. Begitu juga kulit di kedua tangan dan kakinya. Selain menderita luka bakar, dia juga sesak napas, hidungnya pun kini dipasang selang bantu pernafasan. Pemilik nama lengkap Ade Surya Digsinaga ini merupakan korban selamat dari amuk awan panas yang keluar dari perut merapi, Kamis tengah malam kemarin.

Mahasiswa semester V Universitas Negeri Yogyakarta ini menceritakan perjuangannya selamat dari terjangan awan panas. Surya tinggal di Dusun Branggong, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, yang berjarak sekitar 18 kilometer dari puncak Merapi. Dia sebelumnya tidak menyangka wedus gembel akan menerjang rumahnya. "Rumah saya tidak masuk radius bahaya," katanya.

Saat itu ia dan tetangganya tidak yakin kalau wedus gembel bakal sampai kampung. Alasanya, beberapa warga masih ngotot radius awan panas tidak akan lebih dari 15 kilometer. Warga semakin yakin setelah ledakan terjadi keadaan Merapi kemudian tenang.

"Saat ada 15 orang berkumpul di dalam rumah siap-siap mengungsi. Tapi rencana itu urung karena setelah ledakkan tidak terjadi apa-apa," kata dia mengawali cerita.

Namun, perkiraan itu meleset. Beberapa menit setelah terdengar bunyi ledakkan, mendadak orang-orang di luar rumah berteriak mengucap istighfar. Saat itu dia bersama 15 orang-kedua orang tuanya, dua adiknya, juga tetangganya, berada di ruang tamu. Mendadak, bersamaan dengan lolongan istighfar orang-orang di luar rumah, angin kencang yang membawa asap hitam pekat mendobrak pintu dan jendela rumahnya.

Asap hitam itu langsung memenuhi ruangan dengan suhu teramat panas. Kepulan awan juga membawa debu-debu panas. "Debunya panas. Saya sesak, juga ngeri, ada debu-debu menyala mirip percikkan orang sedang mengelas besi," kenangnya. Tak kuat dengan awan yang panas itu dia pun berlari ke kamarnya di lantai dua. Dia lalu sembunyi di bawah kasur ranjangnya.

Beberapa menit kemudian, Surya kemudian membuka kasurnya. Saat itu rumahnya dalam keadaan gelap. Dia menahan nafas, lalu berjalan mencari kaos yang dibasahi dengan air WC. Kaos basah itu ia gunakan sebagai masker.

Dia lalu berteriak memanggil keluarganya di lantai bawah, tapi tak ada jawaban. Setelah dilihat di lantai bawah, ia kaget luar biasa melihat mayat bergelimpungan dengan tubuh penuh debu panas, termasuk mayat ibu dan adik perempuanya.

Sekuat tenaga Surya mendatangi satu persatu mayat itu, siapa tahu ada yang hidup. Namun, saking panasnya debu-debu itu, ia tak bisa menyentuh tubuh para mayat. Tangannya sempat terbakar ketika hendak mendekap tubuh adik dan ibunya. Dia lalu berteriak memanggil ayah dan adiknya, yang saat petaka itu terjadi keduanya berada di luar rumah, tapi tetap tidak ada jawaban.

Surya lalu bangkit mencari keduanya ke luar rumah. Namun ayah dan adik laki-lakinya tidak menjawab. Ia hanya melihat empat tetangganya lari sempoyongan memecah debu panas di kegelapan malam. Surya lalu menghubungi kawan-kawanya di kota meminta pertolongan. Hingga satu jam kemudian tim penolong datang.

Surya satu-satunya warga yang selamat dari 15 orang yang tinggal di rumahnya. Hingga kini dia belum bertemu dengan ayah dan adik laki-lakinya. "Saya sudah tahu kalau ibu dan adik perempuan saya mati. Tapi ayah dan adik laki-laki saya, masih hidup atau sudah mati saya tidak tahu," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

MUHAMMAD TAUFIK

Presiden Bakal Naiki Pesawat Seharga Rp 500 Miliar



JENDELANESIA-Jakarta-Pengamat Industri Penerbangan Dudi Sudibyo, menilai pembelian pesawat kepresidenan Boeing Business Jet 2 (BBJ2) senilai USD 58 juta atau setara dengan Rp 500 miliar itu kurang efektif untuk kunjungan di dalam negeri. Alasanya, pesawat ini memiliki bodi besar, sementara landasan pesawat terbang di dalam negeri rata-rata kecil.”Cocoknya untuk landasan yang besar,” kata dia ketika dihubungi TEMPO, 10 Juni 2011.

Dudi tak menyalahkan atau membenarkan pembelian pesawat itu. Menurut dia Boeing Business Jet 2 (BBJ2) itu cocok digunakan untuk kunjungan kenegaraan. Pesawat ini memiliki mobilitas tinggi, dan biasa digunakan oleh para pembisnis di negara-negara maju, yang butuh kecepatan waktu tempuh dari satu negara ke negara lain. 

Pesawat boeing dengan seri dasar 737-800 MG produksi Amerika Serikat itu juga digunakan sebagai pesawat kepresidenan beberapa negara, salah satunya Brunei Darussalam misalnya. Selain itu, pesawat jenis ini juga banyak digunakan perusahaan-perusahaan transportasi udara, salah satunya Garuda Indonesia yang biasa dicarter presiden saban kunjungan kenegaraan.

Bedanya, ia melanjutkan, terletak pada desain dalam pesawat. Boeing yang biasa digunakan untuk kebutuhan transportasi komersial desain dalam berkapasitas tempat duduk sekitar 200 orang dengan harga sekitar USD 50 juta. Namun untuk kebutuhan bisnis desain dalamnya bisa diubah lebih lengkap dan mewah, dari kapasitas 200 orang menjadi hanya 30 hingga 70 orang.”Harganya disesuaikan dengan pesanan,” ujarnya.

Seperti diberitakan, pemerintah berencana membeli pesawat kepresidenan jenis BBJ2 dengan harga USD 58 juta atau setara Rp 500 miliar lebih. Jumlah itu diprediksi setara dengan 10 ribu ruang kelas sekolah dasar. Rencana pembelian sudah ada kata sepakat. Rencananya, pesawat ini mulai dirakit pada 2012 dan selesai di 2013. Harga pesawat mulanya sebesar USD 62 juta, dan setelah dinegosiasi turun menjadi USD 58 juta.

Dengan pembelian pesawat pribadi, Negara bisa menghemat anggaran hingga Rp 114,2 miliar per tahun. Selama ini, jumlah carteran yang disediakan selama lima tahun (2005-2009) sebesar Rp 919,6 miliar atau USD 91,9 juta, dengan realisasi sebesar Rp 813,7 miliar. Pemerintah beralasan, selama lima tahun itu harga carteran cenderung meningkat. Padahal, biaya carteran lima tahun itu cukup untuk membeli pesawat seharga USD 85,4 juta.

Dudi, yang juga Pimpinan Redaksi Majalah Angkasa itu justru menyoroti pada perbandingan banyaknya jadwal kunjungan presiden dengan besarnya biaya perawatan pesawat. Menurut dia, pembelian pesawat menjadi percuma kalau ternyata dalam setahun jumlah penerbangan presiden dengan pesawat itu minim. Padahal, biaya perawatan mesin itu tidak murah,”jangan sampai pesawat sudah dibeli, tapi banyak menganggurnya,” kata dia.

Selain itu, Dudi juga meminta pemerintah memperhatikan efektifitas pembelian pesawat untuk kunjungan dalam negeri. Kalau untuk kunjungan dalam Negeri, cocoknya pesawat  presiden menggunakan pesawat kecil berbaling-baling jenis CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia.”Itu cocok untuk kunjungan ke pulau-pulau,” ujarnya. Ia melanjutkan,”tapi kembali ke pemerintah, banyak mana kunjungan ke negara lain atau ke daerah-daerah?”

MUHAMMAD TAUFIK