Sasel Fiksi Mini Hingga Film Mini
JENDELANESIA, Jakarta-Anda mungkin pernah menjumpai tulisan fiksi pendek pada status acount seorang kawan di situs jejaring sosial, misalnya kicauan di twitter atau celotehan pada facebook. Isinya bisa tentang apa saja. Dengan polesan majas yang memikat, tulisan-tulisan itu bisa disebut sebagai karya sastra elektronik (sasel) Fiksi Mini. Kata yang ditulis tak perlu panjang, cukup berisi 50 hingga 140 karakter saja.
Bagi Pengamat Sastra Cunong Nunuk Suraja, sasel fiksi mini adalah hal baru dalam bidang sastra. Menurud dia, menulis status di situs jejaring sosial paling nyaman untuk mengekspresikan kebebasan seseorang.”Itu bagus. Saya menyebutnya sastra liberal karena tidak ada editor dan imbalan honor,” kata dia, Rabu kemarin, 30 Maret 2011.
Cunong mengaku menikmati benar Fiksi Mini ini. Di sana dia merasakan ada kebebasan menulis apa saja, terbuka dengan komentar-komentar sastrawan lain. Tidak ada ruang dan skat kasta pada sasel itu. Di sana istilah senior-unior ditutup. Siapapun bisa menuangkan karya tulis sesukanya.”Komentar-komentar serius dan nakal tidak masalah, asal sopan saja,” ucap dosen Ibnu Khaldun Bogor kelahiran Yogyakarta itu.
Diki Umbara, Aktifis di Komunitas Fiksi Mini membenarkan. Sasel fiksi mini bersifat interaktif. Karya sastra itu mengilhami banyak orang terus berkreasi. Tak syak, kini Fiksi Mini menurunkan bentuk karya sastra baru; ada horor mini, saru mini, menu mini, hingga film mini. Diki sendiri lebih aktif pada pengembangan film mini di komunitasnya.
Ia aktif menjadi follower (pengikut) fiksi mini di twitter pada awal-awal tahun 2010 kemarin. Ketika membaca beberapa status kawan, bapak dua anak itu tertarik memfilmkan. Bersama kawanya juga, pada akhir tahun itu, sekitar bukan Oktober-November dia mulai membuat film dari tulisan-tulisan fiksi mini.”Setelah saya amati, tulisan fiksi mini bisa dibikin jadi sinopsis (ringkasan cerita film),” ujar dia.
Berbekal kamera pada telepon genggam, dosen ilmu media di beberapa perguruan tinggi itu mulai memproduksi dua film pendek, kemudian mengunggah ke youtube. Ternyata sambutan para pencinta film tinggi. Ada 5 ribu lebih orang yang membuka film itu di youtube.”Sampai saat ini kami sudah membuat 15 lebih karya film pendek,” ujar lulusan Manajemen Media Universitas Mercubuana, Jakarta, tahun 2010 itu.
Film fiksi mini ini tidak jauh berbeda dengan jenis film pendek lain. Film Indi misalnya. Menurut Diki, film fiksi mini dibuat dari naskah asli sasel fiksi mini sendiri. Sementara naskah film indi tergantung produser, yang biasanya menggunakan naskah non-fiksi mini. Durasinya juga super pendek, rata-rata tiga menit.”Mirip iklan,” kata dia.
Karya-karya film fiksi mini garapan Diki dan komunitasnya bisa dilihat di http://filmfiksimini.
Aktifis Film Mini lain, Muhammad Syukur Nugroho menyebut, pembuatan genre film pendek ini juga bisa dengan banyak tema, misalnya puitis, drama, komedi, dan aktifitas sehari-hari. Semua tergantung naskah fiksi mini. Film bisa buat dengan menggunakan rupa-rupa alat perekam, bisa handpon dan kamera perekam.”Semua orang bisa membuatnya,” kta jebolan Institute Kesenian Jakarta yang akrab disapa Nungie ini.
MUHAMMAD TAUFIK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar