Makan Nasi Bungkus Campur Debu Merapi
JENDELANESIA, Yogyakarta- Suparjo sibuk mengibas-ibaskan tangannya di atas bungkusan nasi di atas meja depan mukanya. Tangan pengayuh becak itu tidak sedang mengusir lalat, melainkan menghalau serbuk-serbuk debu vulkanik yang disemburkan dari perut Gunung Merapi yang meletus sejak 26 Oktober lalu. Saban pagi pria paruh baya ini sarapan nasi bungkus di lapak kaki lima pinggir Jalan Kota Yogyakarta.
“Setiap hari ya seperti ini, makan nasi bungkus campur debu,” celetuknya dengan raut muka gemas, sambil sesekali mengibaskan tangan menghalau debu yang beterbangan di sekelilingnya.
“Setiap hari ya seperti ini, makan nasi bungkus campur debu,” celetuknya dengan raut muka gemas, sambil sesekali mengibaskan tangan menghalau debu yang beterbangan di sekelilingnya.
Usai menyikat habis nasi bungkus, Suparjo ngacir pergi dengan sepeda tuanya. Dia buru-buru, dan menolak bebincang dengan Jendelanesia. Beberapa hari terakhir ini abu merapi memang terus menyembur, dan menyebar ke seluruh mata penjuru angin. Debu dibawa angin ke udara, dan menutupi langit Yogyakarta.
Di tiap sudut kota, debu seperti kelambu putih yang menghalangi pandang, ia hinggap di atap rumah dan menutup jalan-jalan.“Kalau tidak hati-hati saat berkendara sepeda bisa bahaya mas. Jalan ditutup abu,” kata Eko Santoso, warga Parakan Lor.
Menurut dia, sebelum Merapi meletus, hujan abu sering terjadi. Namun, ketebalanya tidak seperti saat ini.
Seperti diberitakan, gunung berapi itu Kamis tengah malam kemarin kembali meletus. Awan panas yang keluar dari perut gunung, yang oleh warga sekitar disebut wedus gembel, menyapu beberapa wilayah. Akibat sapuan wedus gembel itu tercatat hingga sore kemarin 72 orang tewas dan 69 luka ringan hingga berat.
Menurut Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sifat Merapi tak bisa diprediksi. Kemungkinan Merapi masih akan mengeluarkan awan dan lahar panas. Selama Merapi masih aktif, awan panas berupa debu vulkanik itu akan terus mengguyur Kota Yogyakarta. Sementara untuk lahar panas akan mengalir melalui sambungan sungai-sungai di bawah Merapi.
Seperti diberitakan, gunung berapi itu Kamis tengah malam kemarin kembali meletus. Awan panas yang keluar dari perut gunung, yang oleh warga sekitar disebut wedus gembel, menyapu beberapa wilayah. Akibat sapuan wedus gembel itu tercatat hingga sore kemarin 72 orang tewas dan 69 luka ringan hingga berat.
Menurut Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sifat Merapi tak bisa diprediksi. Kemungkinan Merapi masih akan mengeluarkan awan dan lahar panas. Selama Merapi masih aktif, awan panas berupa debu vulkanik itu akan terus mengguyur Kota Yogyakarta. Sementara untuk lahar panas akan mengalir melalui sambungan sungai-sungai di bawah Merapi.
MUHAMMAD TAUFIK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar