Bantengan Mojokerto
JENDELANESIA - Musik kentrung mengiringi aksi dua orang berkostum ala banteng. Suasana mistis makin terasa ketika banteng jadi-jadian itu meloncat-loncat memeragakan tingkah liar banteng sungguhan. Satu orang memegang topeng kepala hewan liar itu dengan posisi berdiri, sementara satu lagi membungkuk di belakang, menutup dirinya dengan kain hitam polos.
Semakin dipandang, aksesoris dua orang itu benar-benar menyerupai kulit banteng sungguhan. Aksi banteng jadi-jadian itu ditingkahi belasan pesilat yang menampilkan beberapa jurus. Meloncat, menendang, salto, hingga saling jotos dan saling tangkis. Bahkan di antara pesilat itu ada yang kesurupan (trance). Aksi-aksi itu bagi masyarakat Mojokerto, Jawa Timur, disebut kesenian bantengan.
Ahad siang pertengahan 2010 lalu, di atas lapangan rumput di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, digelar lah Festival Bantengan tersebut. Banteng jadi-jadian saling beradu lihai memeragakan gerak banteng sungguhan. Aksi mereka akan dinilai oleh beberapa juri. “Siapa yang tingkahnya benar-benar mirip banteng, dialah yang menang,” kata Prio Adi Santoso, salah satu peserta bantengan.
Menurut Prio, bantengan adalah warisan kesenian Majapahit. Konon, saat kerajaan terbesar di Nusantara itu berdri, sempat tersiar cerita tentang munculnya dua kerbau yang terlibat pertempuran sengit dengan macan. Akhirnya, berkat kerja sama dua kerbau itu sang macan kalah. “Intinya kalau kita bekerja sama, apapun rintanganya pasti akan bisa diselesaikan. Itulah inti dari bantengan,” ucapnya.
Dalam seni bantengan juga ditampilkan sebuah cerita tentang seekor burung gagak yang mencegah seekor ular memakan katak. Gagak dan ular akhirnya berkelahi, dan ular kalah.
Cerita itu mengajarkan kepada masyarakat agar selalu bersikap ramah dengan sesama. Yang kuat harus membela yang lemah, meski harus mempertaruhkan nyawa. “Setidaknya itulah ajaran dari cerita seni bantenganyang akrab dikalangan masyarakat Mojokerto ini.”
Versi lain menyatakan, bantengan berasal dari legenda sebuah dusun di Trawas, Mojokerto. Konon, pernah muncul lantunan salawat Nabi Muhammad SAW yang menggema di antara rimbunnya pepohonan di sebuah lokasi yang disebut Sumber Macan. Berdasarkan legenda setempat, nama Trawas dipercaya berasal dari pohon besar yang oleh masyarakat disebut sebagai pohon trawas.
Pohon trawas itu dipakai oleh pendiri dusun yang bernama Ki Gibah Mangundiwoso dan Ki Topeng Waja untuk menaklukkan seekor buaya sakti bernama Bajul Sengoro. ”Apapun bentuk ceritanya, yang penting ini adalah kebudayaan lokal yang perlu dilestarikan,” kata Muhamma Andri, Camat Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.
Menurut Andri, pelestarian budaya itu harus terus dilakukan. Caranya,Festival Bantengan harus terus dilakukan. Pemerintah juga akan segera mematenkan kesenian bantengan ini. Andri khawatir, bantengan akan diserobot daerah lain.
MUHAMMAD TAUFIK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar