JENDELANESIA, Jombang-- Butiran manik-manik dari kaca tercepak di meja kerja Nur Wachid. Ada yang bulat berlukis tinta, hingga bertatah motif bunga. Ukuranya beragam pula, mulai sebesar kelereng, biji tasbih kecil, hingga kerikil. Warnanya pun rupa-rupa, mirip montase warna pelangi; merah, jingga, kunig, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna itu seperti dibalutkan pada desain bentuk dasar manik-manik; bulat, kotak, kerucut, hingga bulat lonjong mirip telor.
Wahid adalah perajin manik-manik asal Desa Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dari dua tangannya butiran manik-manik dengan desain, warna, dan corak beragam itu dirangkai menjadi kalung dan gelang. Model juga ia desain sendiri. Ada jenis kalung dan gelang bercorak etnik, klasik, motif, dan kontemporer yang hanya mengandalkan keindahan desain saja.
Semua jenis kalung dan gelang itu didesain dan dirangkai sendiri di ruang kerja pria 42 tahun ini. Sudah 10 tahun ia bergelut perkara rangkai-merangkai manik-manik itu. Buah kerajinanya secara umum di pasarkan di Jombang dan beberapa kota sekitar. Menurut dia, produk manik-manik Jombang itu kalah dipasaran lokal."Tapi untuk segmen kelas masyarakat tertentu kami unggul,” kata dia saat Jendelanesia mengunjungi showroomnya pertengahan 2010 lalu, di Jalan Raya Gambang.
Bapak tiga anak ini bertutur tentang geliat para perajin dan pengusaha manik-manik di desanya, yang kini menjadi sentra kerajinan produk hiasan ini. Perajin, kata dia, kini mencoba menjajaki pasar dunia, meski langkah itu diakuinya terlampau berani. Namun, resiko kegagalan tetap diambil karena pasar lokal dalam Negeri kini mulai lunglai akibat gempuran produk manik-manik impor dari China dan Thaiwan.
Kondisi itu dirasakan 105 pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Manik-manik Jombang (APMJ). Meski manik-manik buatan mereka memiliki kualitas lebih baik dibanding produk impor, persaingan harga membuat manik-manik tidak stabil. Dengan perbandingan harga yang lebih murah, konsumen lokal lebih memilih membeli manik-manik asal dua negera tersebut.
Wachid membandingkan. Jika di pasaran harga manik-manik kalung jenis kontemporer-yang hanya mengandalkan keindahan-hasil produksi dalam negeri dijual sebesar Rp 10.000, maka produk impor dari China dan Thaiwan dijual sebesar Rp 3000. Perbandingan harga yang jomplang itu jelas membuat pengusaha lokal kelimpungan.”Kami akui kami kalah harga. Masyarakat kita jelas milih yang murah,” ujarnya.
Kendati demikian, hal itu tidak lantas membuat nyali pengusaha ciut. Sejak awal tahun lalu, para perajin justru kian tertantang menekuni bisnis ini. Pasar dunia mulai dirambah dengan cara membuka jaringan-jaringan pengusaha antar Negara, dan membuka website pemasaran di internet. Bahkan, beberapa pengusaha tertantang mendesain sendiri manik-manik dengan menyesuaikan pada kebutuhan pasar.
Dampaknya, beberapa bulan terakhir segmen pasar pun tumbuh. Hal itu terlihat dari tingginya pemesanan barang. Misalnya dari masyarakat elit dari Jakarta, dan masyarakat dari daerah-daerah di luar pulau jawa yang masih mengagungkan etnik kedaerahan, seperti; Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali, Kalimantan, Toraja, dan Irian Jaya. Bahkan, produk mereka juga terdengar hingga ke telinga pengusaha manik-manik di Negara lain; Australia , Malaysia , Kanada, hingga Amerika, yang kerap memesan beberapa kodi material pembuatan manik-manik setengah jadi.
Hal itu berdampak pada omzet penjualan dan produksi usaha. Dengan ongkos produksi sebesar Rp 35 juta perbulan, Wacid mengaku mampu memproduksi 10.000 manik-manik setiap bulan. Dari penjualan itu, omzet usahanya meningkat antara Rp 50 hingga 100 juta, tergantung pesanan.
Hal itu dibenarkan Prayitno, Ketua APMJ. Menurut dia, meski pesanan dari luar negeri meningkat, hingga kini perajin masih tetap mengeluhkan soal lemahnya pemasaran, bukan lemahnya modal. Dia berharap, pemerintah tetap melindungi produk lokal saat bersaing dengan produk impor. Selain itu, pelatihan-pelatihan usaha juga dibutuhkan agar pengusaha lebih siap menghadapi pasar duni.
Diakuinya, selama ini Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi kendala tumbuh kembangya usaha ini. Sebab itu, dia mendesak pemerintah turun tangan mengatasi permasalahan ini.”Kami inginya pemerintah turun tangan mempromosikan produk kami. Pameran-pameran itu penting,” ujarnya. MUHAMMAD TAUFIK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar